Senin, 04 April 2011

CERITA DARI KOLONG MEJA, 10 April - 10 May 2011












Photo Images by Santo Umboro


" CERITA DARI KOLONG MEJA "

oleh Endang Lestari

“Hobiku dulu bermain di pinggir meja,dan menempelkan kertas gambarku pada langit-langit atas kolong meja.”dan ingin ku rekam dalam karyaku."

Karya-karyaku secara umum mengeksplorasi aspek historis dan memori. Keduanya saling membentuk kesadaran. Kedua porsi itu perlu berimbang. Menekankan salah satu akan kehilangan yang lain. Sejarah terkadang adalah cara alter-ego memberi nama, arti dan biografi, sementara memori tanpa sejarah seperti busur yang lepas dari panah. Yang tersisa dari dua hal itu adalah penanda. Penanda yang merupakan akumulasi atau kadang penanda yang belum mempunyai nama, dimana akupun tidak mengetahuinya secara sadar. Untuk mengujinya, aku ingin memulainya dari ingatanku atas kolong meja.

Karya ini bercerita tentang aku masa kecil, mengundang kembali kenangan yang nyaris hilang, terlupa dan samar, beberapa masih tampak begitu jelas berbayang, dan itu yang ingin keberi, ingin ku tangkap, ingin ku baca kembali, ingin ku abadikan

Namun sesungguhnya ide dasar dan kesediaanku untuk berpameran di S-14 adalah aku begitu menyukai Layka (putri dari Herra dan Ucok),melihat Layka, ingatanku kembali pada dulu masa aku sebayanya, kadang hal sepele yang dulu dilakukan menjadi luar biasa jika diingat kembali saat ini.

KARYA 1. (aku akan membuat 12 sketsa /gambar ukuran 30 x 30 cm sudah di frem,yang berkaitan dengan mainanku masa kecil,dan fantasi yang kurekam masa itu)

KARYA 2.(membuat goresan masa kecil di pojok ruangan seukuran kolong meja)

“Aku senang bercakap-cakap dengan teman imajiner yang kutemukan saat aku bercermin, bayanganku yang selalu kulihat di cermin yang kuanggap temanku.”
kolong meja,itu yang kulihat juga pada Layka , saat aku bertamu di rumah Herra dan Ucok . Aku menemukan duniaku dalam kolong meja yang sempit.Mengumpulkan semua mainan yang kupunya, mencoret-coret dinding bagian

KARYA 3.(patung/figure keramik anak kecil kembar saling berhadapan dibatasi kertas hitam yang berlubang di bagian tengah. Ada 5 pasang figur anak kecil kembar yang akan di display)

“Saat itu Aku membayangkan mengumpulkan banyak awan dalam botol kaca, dan menanam benih kacang di dalamnya, mungkin terinspirasi dari cerita bebek angsa dan telur emas yang hidup di atas awan, jika benih kacang yang kuletakkan di botol tumbuh pasti akan cepat besar menuju awan.”

KARYA 4.(Ada belasan botol bening yang akan didisplay, didalamnya ada kapas putih yang diatasnya ada benih kacang merah yang sedang tunas, ditutup dngan tutup gabus yang diatasnya tertancap bunga mawar)

Dan hobiku adalah mengumpulkan teman-teman dan mengajak mereka bertukar peran, mengganti nama setiap hari, dan namaku hari ini Tari, besok bisa jadi Maya, atau Ika, dan seharian memakai nama yang bukan namaku.dan kami menikmati menjadi orang lain.



KARYA 5.(pada karya ini ditampilkan figure keramik berbentuk anak-anak bergerombol ramai didisplay diatas pustek membentuk lingkaran, diatasnya ada banyak balon kata-kata yang tertulis aneka nama di dinding )











Yogyakarta, Maret 2011


Endang Lestari



OPENING : Sunday, 10 April 2011, 4 pm

officiated by Nurdian Ichsan (Ceramic Artist, Lecturer in FSRD ITB)

Music performance by JIMC ( Javanala Intensive Music Course )

Garage Sale, 2 - 4 pm ( Various Products )


s.14 Library Program ;

6 to 5 : "UrBran Society : which one of these representing You in the neighbourhood?" by Rieninta Astari

Urbanisasi yang sudah melebihi batas membuat kehidupan di kota semakin semrawut, selain jumlah penduduk yang meluap memadati setiap jengkal tanah untuk berpijak; kepadatan terjadi dimana-mana, kepadatan di jalan raya sudah tentu menjadi momok yang mengerikan yang harus dihadapi setiap warga sehari-hari, belum lagi kepadatan di lingkungan tempat tinggal sehingga membuat harga tanah melonjak naik, para pembangun pun seakan berlomba dalam menciptakan lahan perumahan baik yang berkonsep cluster maupun apartemen bersubsidi demi memenuhi permintaan akan kebutuhan rumah tinggal oleh masyarakat. Kebutuhan masyarakat pada tempat tinggal tidak sebanding

dengan lahan yang masih tersedia, hal ini mengakibatkan perumahan modern saat ini rata2 hanya memiliki luas tanah 100m2. Tentunya di dalam kacamata bisnis, ini merupakan sebuah peluang, semakin banyak ruang yang dapat dibangun untuk menjadi sebuah rumah, dan semakin banyak konsumen yang akan berminat hingga semua hal ini akan berpengaruh pada yang namanya keuntungan bisnis.

Namun jika dilihat dari kacamata sosial, keterbatasan ini membuat sebagian masyarakat terdesak untuk melakukan hal-hal kreatif yang sesungguhnya sangat mengganggu ketertiban bersama dalam lingkungan. Contohnya Karena lahan dan kondisi yang sangat terbatas, banyak masyarakat menggunakan jalan pintas dalam mengatasi masalah menjemur pakaiannya itu di halaman muka. Meskipun pihak ketertiban lingkungan sudah membuat aturan larangan terhadap hal ini, namun karena kondisi dan situasi akhirnya aturan ini dengan mudahnya dilanggar, dengan alasan dilematis yang juga sangat mendesak. Dan akibatnya pelanggaran ini muncul seperti penyakit epidemik, begitu seseorang menaruh pakaiannya di luar, yang lain pun kemudian akhirnya mengikuti menjadi sebuah kebudayaan massal, sehingga kini pemandangan tali jemuran yang malang melintang di halaman muka rumah pun bukan lagi milik lingkungan kumuh di pinggiran kali. Mengingat persoalan ini begitu kompleks, saya pribadi maklum dan memahami dilematis yang terjadi ketika menyangkut jalan keluar akan kebutuhan menjemur pakaian di lahan yang terbatas. Terkadang dalam keadaan yang sangat terpaksa pun, saya menjadi salah satu dari sebagian masyarakat

ini -namun masih dalam batas kesopanan yang menghormati tata lingkungan dan etika hidup bertetangga yaitu dengan menjemur di batas rumah dan tidak menjemur baju-baju dalam. Karena baju dalam tempatnya di dalam dan tersembunyi, bukan di luar dan bebas dilihat siapapun. Namun fakta yang terjadi di lapangan tidak seperti ini, sebagian dari mereka banyak yang tidak (mau)mengerti dan tidak (mau) tahu cara menempatkan diri dalam etika bertetangga. Perilaku eksploitasi privasi benda-benda pribadi kini dengan bebas menjadi tontonan publik, menghiasi hampir di setiap halaman muka setiap perumahan modern maupun apartemen yang tumbuh menjamur kian pesat.

Yang membuat saya tertarik mengemukakan permasalahan jemuran ini adalah apa yang ada dibalik pikiran mereka ini sehingga tanpa malu menjemur baju-baju dalam di luar secara terang-terangan, tanpa ditutupi selayaknya hakikat baju dalam?Kini tidak ada lagi rasa sungkan dan risih, rasa malu itu memudar dan hampir hilang akibat desakan lahan yang sempit.Manusia pun seakan lupa pada toleransi hidup bermasyarakat dan berlindung pada sifat egosentris yang menurutnya seorang AKU ini adalah apa adanya, orang lain mesti tahu, bahwa AKU tidak mau tahu. (Rieninta Astari, April 2011)


7 " : "Village Film Festival (Jatiwangi) by Sunday Screen












"Village Film Festival" -VFF-merupakan festival residensi videomaker internasional. Videomaker disini termasuk pembuat film, seniman yang biasa menggunakan media audio visual, video documentator atau bidang profesi lain yang juga menggunakan media audio visual sebagai pendekatan atau karyanya. Videomaker diajak untuk residensi selama 2 minggu. Disebar ke berbagai desa, ditempatkan di rumah penduduk untuk berkolaborasi bersama warga,komunitas, ataupun pemerintahan desa, melakukan berbagai pendekatan, hingga selanjutnya dapat membuat sebuah film kolaboratif. VFF diselenggarakan oleh Sunday Screen; sebuah komunitas film di Bandung yang fokus pada ruang pemutaran alternatif, workshop, dan kajian dokumentasi. Bekerjasama dengan Jatiwangi Art Factory (JaF); sebuah komunitas di Jatiwangi yang fokus pada kajian kehidupan lokal melalui program seni, seperti workshop, penelitian dan kajian, pertunjukan, seni musik, seni rupa, residensi seniman dan Festival. Salah satu festival 2 tahunan Jaf adalah Jatiwangi Artist in Residence Festival (JARF). JARF 2010 (26 Juni-9 Juli) menghadirkan 22 seniman domestik maupun international dan melibatkan 7 desa di Kecamatan Jatiwangi.


Detail mengenai kompilasi film ini di http://videolab.blogdrive.com







............................................................................................................................................................................................................

ART PRESENTATION // BEDAH KARYA & KOPI SORE

Sunday, 24 April 2011, 2 pm - done

creative process presentation by Rieninta Astari & Sunday Screen

Open for Public, Snack & Coffee available, free !


CLAY WORKSHOP : Saturday/Sunday, 30 April/1 May 2011 (tentative)

Tutored by Endang Lestari

Supported by Studio Keramik Nurdian Ichsan dan Nadya Savitri,

Jl. Biologi no. 23, Komp. Perum UNPAD Cigadung Bandung

Open for Public, Limited participants, Rp. 50.000,-/person (including material)

contact : Herra (+62 815 7373 7138)


............................................................................................................................................................................................................


Profil Singkat :

Endang Lestari (tari) Lahir di Banda Aceh,27 Februari 1976. Menghabiskan masa kecil dan remaja di Banda Aceh Menyelesaikan S-1 di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, saat ini melanjutkan program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Aktif berpameran sebagai perupa danmenggunakan beragam media untuk berkarya, khususnya keramik, Pameran yang diikuti diantaranya pameran Bandung Contemporary Art Award,pameran ulang tahun Bentara Budaya Yogyakarta “Miroh kampuh Hinggo” (2011), Pameran Seni rupa “Soccer Fever” Canna Gallery, Jakarta. Bazaart Art Fair, The Ritz Carlton, Langgeng Gallery, Jakarta pacific Place , Jakarta.(2010). Jogja Biennale X, Sangkring Art Space,Yogyakarta. Jakarta Contemporary Ceramic Biennale #1, “Ceramic Art : In Between” Noorth Art Space, Pasar Seni Ancol , Jakarta.” Biennale Sastra Indonesia dalam bahasa rupa”, di Salihara, Jakarta.Pameran untuk Yayasan kanker Indonesia, “Untukmu Perempuan Indonesia”, Gedung Arsip Jakarta. Pameran seni rupa kontemporer “Youth life and culture in two part” , Boys/girls (IVAA Book Aid Vol.2) Edwins Gallery, Jakarta.(2009). Berkecimpung di bidang seni dan desain dengan mengelola “Teapot Studio dan Trajektory” aktifitas yang berkaitan dengan industri kreatif yang didirikan sejak tahun 2002.Menjadi tenaga ahli desainer pada Lembaga Seni dan Desain yang dikelola BID, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.Menjadi tenaga pengajar luar biasa di Fakultas Seni Rupa (FSR) Jurusan Kriya minat Utama Kriya Keramik (2001-2003). Ditahun 2003 terlibat dalam program People to people Exchange Program , bersama utusan dari Negara-negara ASEAN malakukan studi seni dan Budaya di Malaysia.Sewaktu menjadi mahasiswa mendapat predikat sebagai mahasiswa berprestasi tingkat fakultas seni rupa ISI Yogyakarta (2000).dan penghargaan sebagai pencipta karya keramik terbaik pada lustrum ISI ke-3(1999). Saat ini sedang mempersiapkan untuk program residesi ke Jepang selama 3 bulan di Shigaraki Ceramic Cultural Park. Jepang. Program dari JENESYS,The Japan Foundation. (6 mei-25 Juli 2011), dan terpilih sebagai finalis Bandung Contemporary Art Award(2010-2011)


Rieninta Astari lahir di Bandung, 21 April 1979. Lulus dari jurusan Seni Keramik, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB pada tahun 2001. Bekerja pada Studio Keramik Petromar pada Mei 2002 – Agustus 2006 sebagai desainer dan manajer operasional. Kebiasannya menggambar sudah dilakoninya sejak di sekolah Menengah dengan karakter yang khas dan humoris. Sejak menikah Maret 2007, ia lebih memilih untuk meluangkan waktunya di rumah dan mengurus anak perempuannya, Aksara Ratnasidra (3 tahun).



Sunday Screen merupakan ruang alternatif yang fokus pada video, melalui program; workshop, produksi film, festival, dan kajian dokumentasi. Mereka adalah Bagus Nugroho, Carda Arifin, Ismal Muntaha, M. Faizurrahman, Rangga Aditiawan, Shinta Widyana, Yopie Nugraha dan Yuda Samakta. Salah satu festival tahunan sunday screen adalah Village Film Festival (VFF); sebuah festival residensi videomaker internasional yang diselenggarakan bekerjasama dengan Jatiwangi art Factory (JaF).



Sabtu, 04 Desember 2010

HAND in HAND workshop exhibition (tribute to S.Sudjojono), 8 - 15 December 2010


Pameran Hasil Workshop
“ HAND IN HAND ”
: studi sketsa mural sudjojono

oleh
Atti Kusniyati
Dewi Kartika Capri
Dina Pratipto
Djumarningsih
E. Resmiati
Pujaningsih
Sekartunggal
Sri Lassini
Tuti Ardilla
Vike Wiqoyah Satari
Sutji Martiningsih W.
Amira Yasmine Aminanda
Muhammad Iqbal Saefullah
Hajar Hanfa Azzahra Saefullah
Tajaliya Anais Aminanda
Tsalitsa Naswa Raihana Saefullah
PG/TK AL-YAHYA Cigadung


Pembukaan Pameran : Rabu, 8 Desember 2010, pukul 14.00 WIB - selesai



Pameran “ Hand in Hand ” ini merupakan hasil karya workshop dari program publik s.1 4
dalam partisipasinya pada acara tribute to Sudjojono yang diselenggarakan oleh Galeri Canna, Jakarta dan Sudjojono Center bekerjasama dengan Galeri Soemardja, FSRD ITB. Diawali dengan pameran “ Sang Ahli Gambar dan Kawan-kawan ” yang mengundang partisipasi setiap seniman dan serentak diadakan dalam ruang-ruang seni di Bandung untuk mengenang S.Sudjojono (Pak Djon) sebagai bapak seni lukis modern Indonesia.

Sejak 20-31 Oktober 2010, program publik s.14 yang diawali oleh kunjungan publik umum (anak-anak, remaja dan orang tua) ke galeri dan ruang seni di Bandung; Galeri Soemardja, Selasar Sunaryo Art Space, Lawangwangi Art & Science Estate, Platform3, dan Studio Rosid untuk melihat karya sketsa pak Djon sekaligus pemahamannya akan istilah pameran seni, galeri seni, sketsa/drawing, lukisan, patung, instalasi dan lainnya. Program publik ini diakhiri dengan workshop ‘drawing and stitching’ dimana anak-anak, remaja dan orang tua diundang untuk meniru sketsa mural selamat datang yang dibuat oleh S.Sudjojono dengan medium yang
berbeda-beda ; pensil di atas kertas, charcoal di atas kanvas, dan benang di atas kain. Lalu s.14 berpikir akan hasil akhir dari workshop ini tidak berhenti pada tahap pengenalan media baru saja, tetapi ingin mengajak partisipan workshop untuk terlibat langsung dalam simulasi persiapan pameran seni. Selain itu karya mereka dapat diapresiasi oleh publik yang lebih luas.

Judul pameran ‘ Hand in Hand’ merepresentasikan semua simulasi program publik ini ketika bersama-sama mengapresiasi, memahami, berkarya dan mempersiapkan pameran untuk apresiasi yang lebih luas dari hasil kreativitas bersama. Hal ini juga tercermin pada acara Tribute to Sudjojono yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dan tim persiapannya, seniman dan ruang-ruang seni di Bandung. Kebersamaan ini tervisualisasikan juga dalam sketsa mural selamat datang yang dibuat oleh pak Djon yang menggambarkan keragaman suku atau ras
bangsa. Semoga semua pihak yang terlibat dalam acara ini tidak lupa akan hal tersebut, makna dibalik perbedaan dalam kebersamaan.


Selamat berapresiasi,
s.14



Program Perpustakaan s.14

6 to 5 : “ Pegangan Tangan ”, a drawing by Rabianna Laykanissa Siregar

7 “ : "Tribute to Sudjojono", a video documentation by Intermedia Studio FSRD ITB


Program Pameran ini didukung oleh

Galeri Canna, Sudjojono Center Galeri Soemardja, dan Videolab.

Jumat, 27 Agustus 2010

WORKSHOP and ART PRESENTATION, 29 - 30 August 2010

A workshop and art presentation by Indrani Ashe & Arum S. Prameshwari;

TIE DYE WORKSHOP
Sunday, 29 August 2010 at 10 am - 3 pm
will be 2 session;
10 am - 12 pm session 1 with Ibu-ibu PKK RW 07 komp. perum UNPAD Cigadung
1 pm - 3 pm session 2 with public, open for everyone

workshop fee : Rp. 25.000,- (including material)
contact : Herra (0815 7373 7138)


ART PRESENTATION
Monday, 30 August 2010 at 4 pm - done
"Ngabuburit puasa sampai buka dan Tajil Bersama"

Rabu, 18 Agustus 2010

INNER SPACE, 23 August - 23 September 2010











" INNER SPACE "
a collaboration work by
Arum S. Prameshwari & Indrani Ashe


s.14 found Indrani Ashe artwork is similar to Arum Sekar Prameshwari, therefore we met them together and let them to collaborate by themselves. Both of their work is more like abstract work but in three dimensional object, moreover it was an abstract installation. Indrani focus on an organic aesthetic through her local found object where Arum is more experiment in fabric media especially in tole. In this collaboration work, Indrani and Arum mixed together what they
interested in. Both on material aspect and the concept of a human body.

Indrani Ashe is mixed American Indian who live in Bandung since past 2 years ago to have a research on local material culture and work as a teacher in one of International private primary school in Bandung where Arum Sekar Prameshwari is from Jakarta, Indonesia who live and work in Bandung, she is one of bachelor art graduated from Fine Art Department in ITB who is now working as a program manager in one of private gallery in Bandung.

They name their collaboration work into " Inner Space " , kind of site-spesific work where they install their work in s.14 into a labyrinth in a small space. this exhibition will followed by a small exhibition in s.14 library; in 6 to 5 program there will be a drawing by Arum Sekar Prameshwari on her previous work and in 7" program there will be a video documentation of Indrani's previous work.

Arum and Indrani will do two session of TIE DYE workshop, one workshop is dedicated to Ibu-Ibu PKK in RW.07 Komp. Perum UNPAD Cigadung, Bandung. Another workshop is open to public, especially teenagers who interested in making their own T-Shirt by tie dye colour experiment.

We will welcoming all of you to apreciate their work, please come and join the workshop for more deep apreciation of the work, enjoy everyone!

warm regards,


s.14


>Opening Exhibition : Monday, 23 August 2010 at 4pm - 7 pm
will be officiated by Dr. Kahfiati Kahdar, MA.
Artist Talk, 4 pm - 6pm.

>TIE DYE Workshop : Sunday, 22 August 2010
special session with Ibu-ibu PKK RW.07 Komp. Perum UNPAD Cigadung
Sunday, 29 August 2010
Open for public, workshop fee Rp. 25.000 (including material & T-shirt)
contact : Herra, 0815 7373 7138

> Art Presentation : " Bedah Karya & Kopi Sore" by Arum S. Prameshwari & Indrani Ashe
a presentation of creative process of their work from previous times.

> s.14 library :
7" program : " embryo garden ", a video documentation by Indrani Ashe
6 to 5 program : "liquified #1", a drawing by Arum Sekar Prameshwari




I.

Kolaborasi kami bermula karena ada kesamaan kecenderungan dalam mengolah bentuk organik pada karya kami masing-masing. Proses kolaborasi kami mulai dengan menyelami/mendalami “isi” pikiran kami masing-masing dengan bertukar cerita tentang kecenderungan ide-ide pada karya kami yang sebelumnya sampai kami menemukan satu titik kami dapat merasa nyaman dalam berkolaborasi. Dimulai dari kecenderungan mengolah bentuk-bentuk organik kami berusaha mengali kembali bentuk-bentuk lain dari rasa nyaman yang ingin kami gambarkan.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk membuat diri mereka nyaman, ada yang merasa nyaman saat berada dalam keramaian atau sebaliknya, atau merasa nyaman saat mendengarkan suara-suara tertentu atau sebaliknya, merasa nyaman saat berada didalam dan terselubung oleh sesuatu atau merasa nyaman saat berada di luar tanpa terhalang oleh sesuatu dan lain sebagainya.

Karya kami mencoba menerjemahkan apa yang ada didalam (organ) tubuh manusia, menggambarkan bagaimana rasanya berada didalam tubuh sendiri dan menciptakan sendiri ruang-ruang imajinasi melalui bentuk-bentuk yang kami olah. Dalam karya kolaborasi ini pula kami bertukar “informasi” teknik yang pernah kami pahami. Kami menggunakan teknik celup ikat yang dikuasai oleh Indrani dan menggunakan material tile yang pernah digunakan oleh saya. Dalam proses berkarya kami berusaha memadukan kedua aspek ini untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan bentuk baru yang sebelumnya tidak terolah oleh kami. sehingga pada akhirnya selain kami dapat mengenal lebih jauh karakteristik material-material yang selama ini kami gunakan kami juga semakin mengenali diri kami satu sama lain juga diri kami masing-masing.

Proses ini dapat diartikan sebagai saat-saat dimana manusia melihat kembali ke dalam dirinya dan diterjemahkan dengan penggambaran saat berada dalam tubuh (organ dalam) manusia. Proses melihat kembali kedalam dapat diartikan juga sebagai proses perenungan, dengan tujuan akhirnya mendapatkan suatu jawaban atau pencerahan.

Pada akhirnya secara pribadi proses berkarya ini saya jadikan sebagai kesempatan untuk merefleksikan diri, berusaha menemukan kembali .

Arum Prameshwari

Arum was born in Jakarta on September 26, 1983. She graduated from sculpture studio for her Bachelor Degree in Fine Art Department, Faculty of Art and Design, Bandung Institute of Technology on 2008. She joined Buton Kultur, a group of artists that initiated a space for community event in Bandung. Now, she is working as a program manager in Selasar Sunaryo Art Space since 2008. She start to exhibit her artwork on 2004, where she joined a workshop by Tosihiro Kuno in Soemardja Gallery. She is passive in exhibiting her artworks. The last exhibition she joined was Deer Andry, a tribute exhibition from a group of artists in Bandung, Jakarta and Yogyakarta on 2008 – 2009.



II.

The collaboration began with the exchange of two perspectives: fabric as a sculptural metaphor for skin or bodies, and toile as a metaphor for comfort. The fusion of these perspectives offered the imagination of a new space, a space depicting the comfort and sanctuary within the embrace of or inside of a body. This is a concept that is continually expressed in each phase of human life, physically and metaphorically.

We begin consciousness within the womb, comfortably floating in a warm red haze. Voices, predominantly our mother’s, are softened by the flesh that cradles us. As infants and children we cannot develop without being cradled, held, and hugged. We run inside of arms and between breasts for security, reveling in physical contact. When afraid or in play we might imitate the closeness and sanctuary of the womb by hiding under the blanket. In adolescence we begin the search for sanctuary inside of a lover’s arms, again finding peace and pleasure within the embrace. We long to be inside someone’s heart or in some one’s thoughts as much as we hold people within our heart or thoughts. In times of stress we may close our eyes, trying to generate peace within our own mental space, separated from the outside world.

In the realization of this imaginary space we experimented with a large variety of textures and tones. We used a dip dye technique on the fabric to create organic variation in color that had a stronger correlation to internal organs than the uniformity of factory produced hues. Layers of toile create an interplay of color and form that at once symbolize membranes and inner working of the body as well as the complexities of the heart and mind which make each individual unique.

Indrani Ashe

Indrani Ashe was born in Winston Salem, North Carolina in 1984. She studied sculpture at Wake Forest University in Winston Salem, producing several public art works and exhibitions during her time there. After graduating in 2006, she went to Indonesia to produce artwork based on an investigation of Indonesian visual culture. Indrani researched traditional markets in Surabaya for a year and then moved Bandung to produce art work. Her solo exhibition “Plastik Organik” took place at Common Room in June 2008. During 2009 she researched and developed the concept of ‘Rahasia Jalan Tikus’, creating art work based on the material culture of community interaction in Sekeloa, Bandung. She has plans to further develop this concept at a residency at Kersan Gallery in Yogyakarta. So far this year she has been practicing her expertise in textiles through collaborative works at Jatiwangi Art Festival and with Bandung artist Arum Prameshwari.




Jumat, 23 Juli 2010

BEDAH KARYA dan KOPI SORE, 25 Juli 2010
























Presentasi Karya
dari Muhammad Akbar dan Mufti Amenk Priyanka
Minggu, 25 Juli 2010 @ s.14, pukul 15.00 WIB
Jl. Sosiologi no. 14, Komp. Perum UNPAD Cigadung Bandung


" mengobrol santai sambil menikmati sore hari dengan kopi, teh dan snack kecil di rumah.."

Senin, 05 Juli 2010

" AFTER IMAGE ", 11 July - 8 August 2010







AFTER IMAGE

Personal (Family) Memorabilia 2000-2010
a solo exhibition by Henrycus Napit Sunargo
11 July - 8 August 2010 @ s.14
Jl. Sosiologi no. 14, Komp. Perum UNPAD Cigadung Bandung

Umumnya , sekumpulan foto yang dibuat dalam sebuah kurun waktu tertentu akan tersusun menjadi sebuah dokumentasi historik yang terdiri dari gambaran2 yang saling terkait satu sama lain; sebuah rentetan peristiwa menjadi cerita lazimnya sebuah album atau jurnal visual. Susunannya sendiri bergantung pada pendekatan masing2 individu atau kelompok. Masing2 orang atau komunitas kecil seperti sebuah keluarga akan mempunyai kesenangan, selera atau kecenderungan untuk menyusun sebuah buku foto yang berisi foto2 kenangan ataupun memorabilia seseorang ataupun komunitas kecil tersebut. Tentunya sekumpulan foto dalam buku atau lebih dikenal sebagai album foto ini sebisa mungkin memuat semua kenangan terhadap tempat atau kejadian yang dianggap penting oleh pihak2 yang terhubung langsung pada album foto tersebut.

Adapun foto serial yang saya susun ini mencoba mengadaptasi sebuah pendekatan fotografi yang sangat umum, yaitu kumpulan foto2 yang menjadi memorabilia sebuah keluarga yaitu keluarga dan lingkungan rumah saya sendiri . Tapi disini saya justru mengesampingkan atau bahkan mencoba mengeliminasi penanda waktu yang spesifik dan citra foto yang “langsung menerangkan” atau sekedar dokumentatif yang lazimnya menjadi prioritas utama sebuah “album keluarga”. Disini saya lebih mengedepankan citra yang terkadang abstrak, ambigu, terkesan mentah, keseharian,snaps dan “tak tersusun” berdasar waktu. Kumpulan foto2 disini lebih seperti dokumenter dengan perspektif personal dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Bisa disebut kalau kumpulan foto ini lebih berupa sekumpulan representasi fragmen2 yang memicu sebuah ingatan atau mood yang kadang tidak ada hubungannya sama sekali dengan foto itu secara langsung. Seperti hal nya apabila kita mendengarkan sebuah lagu, terkadang yang terlintas di pikiran kita bukan hal2 yang berhubungan langsung dengan lirik lagu tersebut, namun malah memicu ingatan kita akan sebuah kejadian atau perasaan tertentu yang mungkin malah bertentangan dengan isi lagu itu sendiri.

Dalam kurun waktu 10 tahun ini tentunya banyak sekali kejadian dan peristiwa apabila dirunut satu persatu. Karya fotografi saya anggap medium yang paling efisien untuk menyusun sebuah memorabilia personal yang bisa mewakili berbagai kondisi dan mood. Dengan media fotografi sebagai medium yang saya tekuni, saya merekam gambaran2 foto yang menandai rasa ; ingin mengkomposisi- dekomposisi, jenuh, spontan, dangkal, depresi, eksperimen, atau satir sekalipun dalam kurun waktu 10 tahun ini.

Inti dari foto seri ini adalah memerdekakan semua persepsi yang dibentuk dari fragmen2 yang direpresentasikan dalam karya fotografi yang bersifat ritmik-non historik. Karya fotografi ini bukanlah sebuah konklusi dari sebuah perjalanan linear sebuah kehidupan, namun hanyalah sekumpulan sketsa acak yang dipungut dari sekian banyak fragmen yang diikat dalam sebuah tema.


Opening Exhibition : Sunday, 11 July 2010 at 4 pm

Will be officiated by Mr. Irfan Ahadi Tachrir

Guitar Acoustic by Aminudin TH Siregar

Artist Talk, 5 - 6 pm.


Photography Workshop : " B/W Processing & Dark Room Technique "

7 Days Workshop by Henrycus Napit Sunargo

limited to 10 people/session

Rp. 100.000,- (including material)

contact : Herra ( 0815 7373 7138 )


There are two other programmes in s.14 library ; 7" is a video screening programme by VIDEOLAB (http://videolab.blogdrive.com) in 7 inch LCD player and 6 to 5 is a drawing exhibition in 60 cm x 50 cm space available. This July 2010, we proudly present :






7 " : " ZIZI ", 2 min 59 sec., dvd loop, 2010

a video screening by Muhammad Akbar







6 to 5 : " PATHETIC WALL" , china ink on paper, 21 x 29.1 cm, 2010

a drawing by Mufti Amenk Priyanka



Akbar and Amenk will share about their concept about their works on Sunday, 25 July 2010 @ 2 pm.



artists short profile :