Senin, 30 Mei 2016

THE NEKROPHONE TRACES : Arsip, Manuskrip, Dokumentasi HOMICIDE, 31 Mei - 30 Juni 2016



The Nekrophone Traces:
Arsip, Manuskrip dan Dokumentasi Homicide


Dewasa ini komitmen seorang musisi atau grup musik untuk mendorong terjadinya perubahan sosial semakin langka. Satu di antaranya adalah Homicide. Dilihat dari peta musik, posisi Homicide memperkaya khazanah “musik alternatif” Indonesia khususnya mereka yang menyimpang dari musik arus utama (mainstream). Grup hiphop ini telah lama bubar namun masih menyimpan spirit perubahan yang kuat mengendap di bawah sadar para penggemarnya. s.14 artspace and library menilai bahwa riwayat dan reputasi Homicide layak dikaji sebagai sumber penelitian dalam ranah kebudayaan di tanah air.

Dalam pameran kali ini, s.14 atas kurasi Aminudin TH Siregar, menampilkan kronik perjalanan Homicide sebagai grup hiphop asal kota Bandung yang kental dengan lirik-lirik kritis tentang perubahan sosial, kejahatan dan penindasan terhadap kemanusiaan, anti kapitalisme, dan sorotan-sorotan yang tajam akan bahaya neoliberalisme dalam ekonomi global hari ini. Dibandingkan kualitas musikalitas yang lebih bisa diterima, lirik-lirik Homicide tidak hanya agitatif, tapi juga dikenal memiliki kekuatan diskursif sehingga memerlukan kecermatan tersendiri bagi para penggemarnya untuk bereaksi atau sekedar mengerti. Di puncak prestasi lirik, Homicide menduduki tempat istimewa. Oleh mereka, lirik secara sadar didorong guna menghasilkan efek penyadaran dalam sebuah proses perubahan sosial.

Tidak sedikit kaum intelektual menyadari bahwa seni harus membalikkan fungsi seni dari alat-alat ideologis menjadi alat kritis pembebasan manusia, refunction. Seni pasca auratik (seni yang telah kehilangan auranya) telah dimanipulasi untuk tujuan-tujuan ekonomis dan komersil, atau propaganda ideologis seraya memapankan penindasan-penindasan. Dewasa ini, seni pasca auratik, termasuk musik, telah menjadi komoditi dalam kebudayaan massa. Seni (musik) tidak lagi dihasilkan melalui pengalaman estetis, melainkan justru menjadi obyek manipulasi mekanisme pasar. Di realitas dunia musik Indonesia yang chaotic sekarang, “nilai guna” musik dilepaskan dan diganti dengan “nilai tukar”, hingga akibatnya, baik “musik serius” maupun “musik ringan” menjadi barang yang bisa dipertukarkan dan mengikis batas-batas hirarkis. Sepanjang kiprahnya, Homicide menyadari resiko dan paradoks yang mereka hadapi. Homicide menolak paham “musik sebagai musik” sepertihalnya “seni untuk seni” yang hanya mempertontonkan pemujaan berlebihan terhadap seni/musik sehingga justru dapat menyesatkan dan menutupi kebenaran.

Berdiri di Bandung dengan nama awal Verbal Homicide, grup ini awalnya diinisiasi oleh 3 orang rapper; Morgue Vanguard (Herry Sutresna), Sarkasz (Aszy Syamfizie) dan Punish (Adolf Triasmoro) dan satu DJ, Kassaf (Kiki Assaf) pada tahun 1994. Pada perjalanannya formasi terakhir Homicide adalah Morgue Vanguard, DJ-E (Ridwan Gunawan) dan Andre pada gitar sebelum membubarkan diri di tahun 2007. Dengan memperlihatkan koleksi poster, foto, video musik, manuskrip lirik, CD, kaos, vynil, dan cinderamata, pameran ini mengajak kita melihat cuplikan kontinuitas dan diskontinuitas sejarah grup ini di dalam peta perkembangan musik Bandung.

Untuk mengiringi dan melengkapi cara kita memahami pameran ini, s.14 akan menggelar diskusi dengan tema Musik dan Perubahan Sosial dengan nara sumber Homicide (Ucok, Aszi, Iwan), Taufiqrahman, Lingga Agung dan Indra Hikmawan a.k.a Papap. Dan akan digelar workshop untuk pelajar bersama Ucok Homicide dan Jay – seorang beatmakernya Eyefeelsix untuk memberikan pengenalan dasar mengonstruksi musik hiphop dengan metoda sampling. Dalam rangkaian ini pula, tim s.14 akan memberikan pengenalan dasar musik hiphop melalui gerak, kreasi dan terakhir, akan ada pemutaran film sejarah musik hiphop yang diseleksi sendiri oleh Ucok Homicide.


Agenda Program s.14 | Mei – Juni 2016

Pameran Retrospektif
The Nekrophone Traces : Arsip, Manuskrip, Dokumentasi HOMICIDE
31 Mei – 30 Juni 2016

Tidak ada seremoni pembukaan,
pameran dapat di apresiasi langsung pada jam buka Perpustakaan s.14;
Selasa – Sabtu, 11.00 – 17.00 WIB, Minggu & Senin TUTUP
Terbuka untuk UMUM dan GRATIS,

Artist Talk & Diskusi  | 17 – 24  Juni 2016
Musik & Perubahan Sosial
17 Juni 2016 | Indra Hikmawan &  Lingga Agung
18 Juni 2016 | Homicide (Ucok, Aszi, Iwan) & Taufiqrahman
24 Juni 2016 | Linggo & Ucok Homicide

Public Workshop | 24 – 30 Juni 2016 (tentative)
Lets HIP HOP! | workshop untuk Anak  bersama s.14
pengenalan musik HipHop melalui Gerak &  Kreasi
Lets Sample! | workshop untuk Pelajar  
pengenalan dasar kontstruksi music HipHop dengan  metode sampling
bersama Ucok Homicide & Jay EyeFeelSix |   
limited seat, workshop fee charge.

Film Screening | setiap Jumat, 15.30 – 17.30 WIB
Sejarah Kultur dan Estetika Hip Hop,
Film pilihan & koleksi Ucok Homicide

Terbuka untuk UMUM & GRATIS.


-----------------------------------------------------------------------------------


The Necrophone Traces:
Archive, Manuscripts, Documentation of Homicide


These days, a musician’s or a group’s commitment to drive changes in the society is quite rare.  One of the committed groups is Homicide. In the local music scene, Homicide has enriched Indonesian “alternative music” especially to those who deviate from the mainstream music. This Hip Hop group split up a long time ago but it still keeps the spirit of change that has settled in their fans’ subconscious minds. s.14 Art Space and Library considers Homicide’s history and reputation deserve to be reviewed as a main source of research of our culture. 

In this exhibition, s.14 with Aminudin TH Siregar as the curator, presents the chronicles of Homicide’s journey as a Hip Hop group from Bandung that is known for their critical lyrics about social changes, crimes, repression of humanity, anti-capitalism, and sharp views on the threat of neoliberalism in today’s global economy. Compared to the more acceptable quality of musicality, Homicide’s lyrics are not only agitative but also known to have discursive strengths that require great precision for their fans to react or to merely understand. In terms of the achievements of their lyrics, Homicide sits in a special position. By them, lyrics are consciously pushed to achieve the awareness effect in the process of social changes.

There are many intellectuals who realise that art has to bring back its main function from being tools of ideology to being critical tools to free humans, refunction. Post-auratic art (art that has lost its aura) has been manipulated for economic and commercial purposes, or for propaganda of ideology whilst establishing repression. These days, post-auratic art, including music, has become a commodity of mass culture. Art (music) is no longer created as a result from aesthetic experiences but becomes the object of manipulation of market mechanism. Now, in the reality of Indonesian chaotic music, “useful value” of music is released and is replaced with “exchange value”. As a result, “serious music” and “light music” become exchangeable products eroding borders of hierarchy. Throughout their career, Homicide realised the risks and paradox they were facing. Homicide rejects the view that “music as music” and “art as art” that only shows the over-idolisation of art/music, possibly misleading and covering up the truth.   

Initially called Verbal Homicide, this group consisted of Morgue Vanguard (MC, Producer), Sarkasz (MC), DJ E (Turntables), and Andre (Guitars), formed in Bandung in 1994 and split up in 2007. By showing their collection of posters, photos, music videos, manuscripts of lyrics, CDs, T-shirts, vinyl, and merchandise, this exhibition invites us to see snippets of this group’s history of continuity and discontinuity in the music development in Bandung.

To accompany and complete our experience in understanding this exhibition, s.14 hosts a discussion with the theme of Music and Social Change with Homicide (Ucok, Aszi, Iwan), Taufiqrahman, Lingga Agung and Indra Hikmawan a.k.a Papap. There is also a workshop for students with Ucok Homicide and Jay – a beatmaker from Eyefeelsix – to give an introduction of the basics of constructing Hip Hop music using sampling methods. As part of this event, s.14 team will give an introduction to the basics of Hip Hop music through movements, creation and at last, there is a film screening on Hip Hop music history selected by Ucok Homicide.


Agenda of Program s.14 | May – June 2016

Retrospective Exhibition
The Necrophone Traces: Archive, Manuscripts, Documentation of HOMICIDE
31 May – 30 June 2016

There is no opening ceremony,
The exhibition can be viewed during the opening hours of s.14 Library;
Tuesday – Saturday, 11.00 – 17.00 WIB, Sunday & Monday CLOSED
Open for PUBLIC and FREE

Artist Talk & Discussion | 17 & 18 June 2016
Music & Social Change
17 June 2016 | Indra Hikmawan &  Lingga Agung
18 June 2016 | Homicide (Ucok, Aszi, Iwan) & Taufiqrahman
24 June 2016 | Lingo & Ucok Homicide


Public Workshop | 24 – 30 June 2016
Let’s HIP HOP! | Workshop for Children with s.14
Introduction to Hip Hop Music through Movements & Creation
Let’s Sample! | Workshop for Students with Ucok Homicide & Jay EyeFeelSix | Introduction to Basic Construction of Hip Hop Music Using Sampling Methods
Limited seats, workshops are FREE

Film Screening | every Friday, 15.30 – 17.30 WIB
Education on Hip Hop Music History
Films are selected & chosen by Ucok Homicide
Open for PUBLIC & FREE


Update detail information in our social media :
IG : @sosiologi14
twitter : @sosiologi14



Publication & Video design by Fajar Faturahman

Senin, 15 Februari 2016



YUME NO MACHINE

#RobotMenikah

oleh Recycle Experience

s.14, 16 Februari – 16 Maret 2016



Terinspirasi dari berbagai persilangan memori dan ketertarikan yang sama pada budaya pop dan memori masa kecil melalui mainan, film anime Jepang, khayalan, coretan-sketsa dalam catatan zaman kuliah, mimpi dan cerita kehidupan yang dialami, Attina Nuraini (1986) & Evan Driyananda (1987) berkarya bersama dengan nama Recycle Experience (REEXP) sejak 2006. Dengan semangat Art Toys Movement, mereka berdua bereksperimen dengan mengeksplorasi material temuan (found objects), barang bekas/tidak terpakai untuk dirubah, ditata ulang, potong-sambung menjadi bentukan dan makna baru dalam sebuah dunia imajiner.

Ide dan obrolan untuk mengundang REEXP berpameran di s.14 sudah berlangsung sejak tahun 2010, tetapi karena kesibukan mereka pada pekerjaannya yang lain : Mannequin Plastik, label desain kolaborasi kreasi mereka dalam karya aplikatif seperti pakaian wanita, tas, aksesoris, dan lainnya yang mengakibatkan ide pameran saat itu urung dilakukan. Lain halnya dengan hari ini, setelah 5 tahun, akhirnya kami sepakat untuk merealisasikan ide pameran tersebut dengan judul YUME NO MACHINE (Mesin Mimpi), dimana mereka mencoba membaca ulang kembali perjalanan mereka selama 15 tahun bersama, bermula dari pertemuan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA 12 Bandung) dan layaknya sebuah mimpi yang berjalan sampai hari ini, sebagai teman-sahabat-rekan kerja-pasangan yang memutuskan untuk hidup, dan membangun rumah tangga bersama pada 
16 Januari 2016.

Latar belakang kekaryaan yang sangat personal, tetapi mudah dimengerti dan dipahami oleh berbagai kalangan : tentang kasih, kisah dan harapan. Kisah perjalanan itu terangkum dalam beberapa artefak elemen estetis pada pesta pernikahan mereka, dari mulai robot loro blonyo, foto pre-wedding, mahar, video, dan lainnya. Alhasil, display karya-karya tersebut berpindah tempat dari gedung pertemuan ke ruang s.14, satu persatu artefak-patung/obyek, dan karya REEXP lainnya merespon ruang-sudut perpustakaan dan bangunan terbengkalai, menyulapnya menjadi satu kesatuan instalasi dengan warna-warna ceria, dengan bentuk-bentuk imajinasi mereka, tambahan detail  kecil dari rumah/studio mereka seperti mainan masa kecil, obyek temuan  (found objects), sampai alunan nada (sound). Lewat memori, artefak kenangan, bentukan baru, dengan sederhana mereka mencoba berbagi inspirasi, spirit kebahagiaan melalui karyanya.

Bertempat di s.14, Jl. Sosiologi no. 14 Komp. Perum UNPAD Cigadung, dibuka untuk apresiasi Umum tanpa seremoni pembukaan pada Selasa, 16 Februari 2016, dan berlangsung sampai 16 Maret 2016. Dalam rangkaian pamerannya terdapat Artist Talk/Bincang Seniman pada Sabtu, 20 Februari 2016 untuk mengenal lebih dekat proses kekaryaan seniman, dan ditutup pada Sabtu, 5 Maret 2016 dengan pelatihan/workshop “The Art of Recycle” yang akan dipandu Evan dan Attina langsung dalam berbagi teknik, ide berkarya memanfaatkan barang-barang bekas, sampah, 
yang sudah tidak terpakai.


Artist Talk 
Bersama Attina Nuraini & Evan Driyananda
Sabtu, 20 Februari 2016 | Pukul 15.00 – 18.00 WIB

Public Workshop
‘The Art of Recycle” 
Sabtu, 5 Maret 2016 | Tidak ada batasan umur | FREE, tempat terbatas! 


Update Info Program 
FB : Ruang Depan 
Twitter & IG : @sosiologi14




 DREAM TEAM
mix media, 
179cm x 100cm x 50cm
 2016


 TEEN TOYS 
mix media 
105cm x 235cm, 103cm x 235cm 
2012-2015


THE FACE OF TRUTH
mix media (2)
43cm x 43cm
2015


GUARDIAN
mix media
2016 


 FUTURE 
mix media
2016


HOPE
mix media
2016



         

PROFIL SINGKAT



Evan Driyananda, lahir 8 Agustus 1982 di Bandung. Ia menyelesaikan studi seni rupa di UPI-Bandung pada 2010. Sejak 2006 aktif dalam sejumlah aktivitas seni melalui proyek seni yang diberi nama Recycle Experience (REEXP) yang memanfaatkan limbah plastik dan tembaga. Pada 2007 ia mendirikan dan berperan sebagai art director sebuah label aksesoris MANNEQUIN PLASTIC dan pernah menjadi art director untuk Lou belle (2010–2011). Kini bekerja dan menetap di Bandung.

Attina Nuraini, lahir 17 april 1986 di Bandung. Menamatkan studinya di UPI-Bandung pada 2010. Sejak 2006 aktif dalam sejumlah aktivitas seni melalui proyek seni yang diberi nama Recycle Experience (REEXP) yang memanfaatkan limbah plastik dan tembaga. Sejak 2007, ia turut mendirikan dan menjadi direktur kreatif sebuah label desain MANNEQUIN PLASTIC; dan PINX (sejak 2010-sekarang). Kini bekerja dan menetap di Bandung.

Recycle Experience (REEXP) didirikan pada akhir 2006 oleh Evan dan Attina sebagai ruang berkesenian yang penciptaannya hadir atas ketertarikan bersama pada budaya pop dan Toys Art Movement. Kekaryaan REEXP  lahir dari keinginan untuk merubah dan menata ulang benda temuan yang tidak terpakai, sebagai ruang eksplorasi, eksperimen bersama. Aktif mengikuti pameran bersama sejak tahun 2007, pameran tunggal pertamanya “My Secret Garden“. di Lou belle shop (2010) dan mendapatkan beberapa penghargaan seperti People’s Choice : Indonesian Emerging Artist di Bazaar Art Award 2010, Young Change Makers dari Ashoka Indonesia (2009). ‘Yume No Machine’ adalah pameran tunggal kali kedua di s.14 pada awal 2016 ini.


Follow
Twitter : @REEXP
IG : @re_exp

www. recycleexperience.blogspot.com


Sabtu, 29 Agustus 2015


Hibah Pameran s.14 (2014/2015), mempersembahkan :

LOKO SITATO MAHLUK
by Henryette Louise

21 Agustus - 21 September 2015

s14,
Jl. Sosiologi no. 14 komp. perum UNPAD
Cigadung Bandung 40191



Di awal 2014 silam, Angga Wijaya mahasiswa UNJ (Universitas Negeri Jakarta) yang juga anggota perpustakaan s.14 berhasil memenangkan Hibah Pameran s.14 perdana. Hibah perdana itu masih menawarkan tema bebas dan terbuka akan segala kemungkinan yang mempertautkan seni dan permasalahan kehidupan. Debut hibah itu berlangsung sukses. ketika itu Angga Wijaya mengajukan proposal "Education Objectivity” yang menyinggung secara kritis perihal seni dan pendidikan yang bagaimanapun berhasil memberikan pandangan baru pada ruang s.14 yang bertujuan berbagi ruang untuk seni dan kehidupan. Untuk merealisasikan gagasan dalam proposalnya, Angga Wijaya mengajak kelompok seniman ABC Forum yang terdiri dari Eti Kurniasih, Ika Setyaningsih, Iin Novitasari, Meita Meilita, dan Sarah Fidiyanti untuk turut berpartisipasi. Tak hanya pameran, mereka juga menggelar workshop bersama khalayak umum.

Sebagaimana diketahui, salah satu syarat pameran Hibah s.14 adalah mewajibkan para pelamar (baik seniman, kurator, peneliti, pengelola seni) untuk memberikan pelatihan atau workshop untuk khalayak guna membangun apresiasi mendalam terhadap seniman dan karyanya dan sekaligus sebagai ruang edukasi bersama.

Hibah Pameran s.14 (2014/2015) untuk kali kedua ini mengambil tema soal Seni dan Sampah. Dari sejumlah proposal yang masuk, Henryette Louise melalui proposal bertajuk "Loko Sitato Mahluk" berhasil memperlihatkan secara sederhana, nyata, dan sangat terkoordinir, baik dari segi perencanaan hingga persiapan pamerannya. Proposal tersebut akhirnya terpilih sebagai penerima Hibah untuk tahun ini.

" Sampah jika tidak dikelola dengan baik berpotensi merusak lingkungan. Mengakibatkan pencemaran baik pada tanah, air atau pun udara. Akan tetapi jika dikelola dengan baik, sebenarnya sampah-sampah tersebut masih memungkinkan untuk dimanfaatkan baik dalam bentuk aslinya ataupun melalui proses pengolahan atau daur ulang."

Kira-kira begitulah gagasan awal Louise. ia memperlihatkan kepeduliannya terhadap lingkungan dengan mengeksplorasi sampah-sampah berbahan timah sari atau populer dengan nama seng. Bermula dari kebiasaannya yang suka mengumpulkan sampah seng di seputar lingkungannya, dari perumahan kumuh, atau sisa-sisa pembangunan. Kebiasaan itu ia lakukan sepulang dari kuliah atau perjalanan menuju pulang kembali ke kamar kost sekaligus studio kerjanya. Louise mencoret-coret seng dan menghasilkan gambar yang khas. Tak lama ia kemudian bereksprimen dengan membentuk seng tersebut menjadi karya tigadimensi. Pemahamannya terhadap media seng ini cukup mendalam, bagaimana pada akhirnya ia menemukan hasil eksperimennya ini mencerminkan jiwanya, terinsiprasi dari Jiwa Ketok-S. Sudjojono, bagaimana spiritnya ia pakai sejak memungut barang-barang yang tidak terpakai ini menjadi sesuatu yang bisa merepresentasikan jiwa yang ia maksud.

"Mengawali proses pencarian bentuk dari sketsa dan lukisan/drawing saya sendiri. Namun tidak lepas dari indera yang merekam bentuk-bentuk mahluk, virus, bahkan binatang yang ada di semesta ini. Berkaki empat berbentuk corong mengimajinasikan mahluk hiprokit yang mengikuti tuannya. Bentuk ini tidak lepas dari pengalaman visual arca/ patung yang cenderung di sembah, percaya takhyul ini merupakan sifat orang Indonesia. Seperti yang di paparkan buku Mochtar Lubis dalam bukunya “manusia Indonesia” ,enam sifat manusia Indonesia yaitu munafik,enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhul, artistik, lemah watak. Sifat-sifat di atas menginspirasi pada pencarian bentuk-bentuk mahluk loko sitato. "

Bagi Louise, menciptakan “mahluk” dari bahan bekas atau sampah hasil memungut, mengutip, meniru lazimnya mahluk peniru yaitu manusia dengan nama Loko Sitato Mahluk. Loko sitato adalah ruang menjiplak sesuatu bentuk. Ide/gagasan Louise dalam proyek ini mengungkap hal yang pribadi sekaligus alegoris. Misalnya, ia mengapungkan kredo "Jiwa Ketok" itu dengan sindiran jiwa (dirinya) yang mengetok-ngetok dalam arti sebenarnya, memukul-mukul/ketok magic. Lebih jauh gagasan itu merepresentasikan sesuatu yang tiada menjadi ada, sesuatu yang terbuang menjadi berharga, dan sesuatu yang asing berubah menjadi menyenangkan.

Rangkaian pameran dan program ini diharapkan bisa menyenangkan semua pihak. Kita akan diajak mengapresiasi karyanya, tetapi juga diajak berbagi seputar pengalamannya melalui workshop "Toketok Celengan", dan performa musik Kaleng sekaligus penutup pameran nanti.

Keluarga s.14 akan memulai rangkaian program ini tanpa seremoni pembukaan. Karya-karya Henryette Louise sudah bisa dinikmati mulai tanggal 21 Agustus hingga 21 September 2015.

Jam buka s.14: Selasa-Sabtu, pukul 11.00 - 17.30 WIB | Minggu & Senin TUTUP.

Mari berapresiasi, kawan!
Keluarga s.14


Artist Talk
Minggu, 30 August 2015 | 13.00 - 15.00 WIB
Presentasi dan Diskusi karya
Musik Kaleng dari Henryette Louise dkk
Terbuka untuk UMUM & Gratis

Public Workshop "TOKKETOK CELENGAN"
Jumat, 11 September 2015
Sabtu, 12 September 2015
(by registration, limited seat, 18+)


------------------------------------------------------------------------------


Tentang Seminan
Henryette Louise, lahir di Blitar (1980),
merupakan lulusan Seni Rupa STSI (SekolahTinggi Seni Indonesia) yang saat ini berganti nama menjadi ISBI (Institut Seni & Budaya Indonesia). Pernah menempuh studi seni rupa di SMSR (1997-1999), Modern School of Design Yogyakarta (1999-2001). Masuk STSI awalnya mengambil jurusan Desain Grafis pada 2002-2008, lalu mengambil jurusan Seni Lukis pada 2011-2013. Ia juga aktif dalam kelompok seniman Invalidurban, sebagai Konseptor Artistik. Sebagai seniman, ia cukup aktif berkarya secara kelompok maupun perorangan.



Tentang Hibah Pameran s.14
Hibah Pameran s.14 adalah bentuk apresiasi dan penghargaan s.14 kepada anggota perpustakaan s.14 melalui pameran seni rupa yang mendedikasikan dirinya terhadap interaksi/kolaborasi/apresiasi terhadap lingkungan dan masyarakat yang lebih luas. Hibah ini dimulai sejak tahun 2013/2014, kali pertama s.14 memutuskan untuk memperingati hari jadi ruang s.14 pada setiap tgl. 21 Juli setiap tahunnya. Tidak terbatas umur, terbuka untuk Umum, lintas disiplin dan lintas generasi.

Tentang s.14
s.14 adalah ruang terbuka yang bertujuan untuk mewadahi kegiatan yang terkait dengan seni, kehidupan, dan berbagi melalui program pameran seni, diskusi, presentasi, dan pelatihan publik dengan fasilitas ruang pamer alternatif dan perpustakaan, bersifat pro bono. Berdiri sejak 21 Juli 2008.


contact person :
Unis/ Nur Khaerunnisa 0857 2267 5658
twitter : @sosiologi14
IG : sosiologi14