Kamis, 28 Juni 2012

"Tales of Moving Island" by kemalezedine




Tales of moving island
(visual summary of life)
by Kemal Ezedine

Saya suka Affandi
Saat berada diawal belasan tahun usia saya di Yogyakarta, saya sudah pernah mengukuhkan cita-cita saya sebagai pelukis, alasannya hanya karena suka menggambar, saya hanya melakukan apa yang saya bisa disaat itu, yaitu menggambar semirip-mirip dan sebagus-bagusnya   dari apa yang saya lihat sebagai contoh gambar, saya kesulitan melukis dengan kuas dan cat, maka saya memilih crayon/pastel  karena secara garis dan warna lebih mudah untuk dikuasai, sayapun dikenal sebagai jago gambar disekolah dan sering sekali memenangkan lomba. Hingga suatu hari saya berkunjung ke museum Affandi, disana saya mendapat suatu hal yang berbeda yaitu, melukis dengan kuas dan cat hasilnya boleh jelek, sejelek karya-karya Affandi yang saya lihat. Setidaknya itu pandangan yang  saya saat itu, yang penting banyak goresan garis dan warna, saya pun mulai menggambar jelek dengan kuas dan cat seperti  Affandi , tidak ada salahnya, saya meniru seorang maestro, lukisan pertama saya menggunakan kuas dan cat adalah lukisan sebuah menara Eiffel yang saya contoh dari souvenir yang dibawa ayah saya sepulang dia bersekolah di eropa, saya mulai menyukai melukis dengan cat dan kuas, akibatnya seorang guru kesenian merobek gambar saya karena dinilai gambar saya jelek tidak sebagus biasanya dan meminta saya menggambar dengan crayon, saya marah dan keluar dari kelas, saya duduk di kelas 6 SD saat itu, dan saya tetap melukis bergaya Affandi  yang selalu di tolak oleh guru kesenian disekolah, sayapun tidak pernah lagi menang di setiap lomba menggambar . Disaat kuliah, saya masuk ke jurusan desain produk di FSRD ITB dan saya tidak pernah nyaman berada di jurusan itu, saya lebih banyak bermain dengan anak-anak dari jurusan seni murni, terutama jurusan seni lukis dan seni patung.

Magic Mushroom
Saya sangat bersyukur sekali kejadian ini terjadi terhadap saya. Kejadian konyol tapi begitu penting. Suatu waktu tahun 2004 di Bandung, saya berkunjung ke rumah teman saya yang berkebangsaan Korea Selatan bernama Kim Bo Hyun  disana  juga datang Takahiro Murasawa, teman berkebangsaan jepang . Taka baru saja pulang dari Batu karas, Pelabuhan ratu dan membawa oleh-oleh magic mushroom yang dibungkus daun pisang, lipatannya kira-kira sebesar bungkus rokok. Saat di buka bungkusan itu tercium bau yang saya pikir magic mushroom itu sedang  dalam proses pembusukan, Kim Bo menolak untuk ikut mengkonsumsi  magic mushroom itu, sedangkan saya dan Taka masuk dalam kemelut rivalitas keberanian. Akhirnya diputuskan Kim Bo sebagai bartender , saya dan Taka sebagai konsumen. Segera Tersaji  dua gelas Orange Float Magic Mushroom + sedikit Soju (arak Korea). Tidak terlalu lama prosesnya bekerja setelah masing masing dari saya dan Taka meminumnya, saya mulai merasakan mual dan sepertinya muka saya berwarna hijau keungu-unguan. Taka tampak terlentang dilantai menutupi mukanya. Saya mulai khawatir, jangan –jangan kami keracunan, saya menawarkan kepada Taka untuk memuntahkan apa yang kami minum, tapi Taka menolak, saya sudah tidak kuat dan segera lari kekamar mandi dan memuntahkan apa yang saya minum, lumayan meringankan, tapi tetap sempoyongan dan keringat dingin keluar. Kimbo mulai khawatir, dia mengajak kami untuk jalan-jalan mencari udara segar. Mobil disiapkan dan Kimbo sudah siap di belakang kemudi , saya duduk dikursi depan dan Taka di kursi belakang. Seingat saya mobil melaju dengan sangat cepatnya, saya tidak tau kemana, karena saya terus bersandar di kursi sambil melihat keluar jendela, Kimbo mulai memasang lagu-lagu disko Korea dengan CD palyer di mobil yang penuh lampu warna-warni, Taka mulai berjoged di belakang, saya mulai merasakan reaksi magic mushroom ini. Reaksinya adalah, hujan dan kabut warna! Dimana-mana setiap ada cahaya di jalanan mengeluarkan jutaan warna, tumpah ruah kemana-mana, kemanapun saya menoleh mengakibatkan warna-warna itu bergerak dan terus keluar dari setiap cahaya yang saya lihat, lampu jalan, lampu rumah, lampu CD player, lampu mobil, semuanya melahirkan warna-warna yang terus keluar seperti ombak, saya mulai tersenyum dan tertawa.Semua orang  happy, termasuk Kimbo, Ini pertama kali dia bawa mobil kejalanan. Saya baru ingat keesokan paginya kalau Kimbo sedang belajar menyetir mobil.

Hayao Miyazaki mengajarkan saya untuk berimajinasi.
Hayao Miyazaki adalah director sekaligus pemilik dari Ghibli Studio, lama sekali saya mengikuti karya-karyanya hingga sekarang, mulai dari Lupin the 3rd , Nausica, Totoro, Mononoke Hime, Laputa, Spirited Away, Ponyo, Porco rosso , Howling moving Castle dan masih banyak lagi hingga film animasi terakhirnya Ariety. Setiap karya-karya Miyazaki seperti membawa saya ke dimensi lain disaat menontonnya, entah kenapa setiap filmnya seperti menyihir saya untuk berada didalamnya, setiap ceritanya meyakinkan saya bahwa itu bisa saja terjadi didunia ini. Membuat saya begitu mengidolakannya hingga hampir menyembahnya (lebay). Hal yang paling saya rasakan adalah, begitu besar pengaruhnya terhadap saya untuk bisa berfantasi dan berimajinasi, memudahkan saya untuk mencipta, berkreasi dan berpikir hal-hal yang diluar kebiasaan, bahkan hal-hal yang terlihat konyol sekalipun, membuat hidup ini semakin menyenangkan dan menarik untuk mencari tahu misteri-misteri dibaliknya, bahkan bukan tidak mungkin untuk diaplikasikan didalam hidup untuk melihat hal-hal baru yang selama ini belum pernah saya lihat.
Lihat saja Totoro, secara visual apa pikiran logis yang bisa kita lihat secara visual dari Totoro, siapakah Totoro? Seekor burung hantu? Tupai? Kucing?..dan setelah saya cari tahu ternyata dia adalah roh dari pohon (???). Porcorosso, seorang pilot di era perang yang dikutuk menjadi manusia berkepala babi. Cihiro yang masuk ke dunia roh dengan bentuk yang  beragam dan sangat menarik  didalam film Spirited away atau dalam versi jepangnya berjudul  Chihiro no Kamikakushi dan masih banyak lagi. Semua film karya Miyazaki begitu terekam didalam ingatan saya dan membuat saya ingin berada didalamnya. Apalagi begitu hebatnya dia mencampurkan budaya eropa dimana Hayao Miayazaki begitu menyukai karya-karya renaissance dengan budaya jepang tradisional didalam karya animasinya. Begitu berpengaruhnya Hayao Miyazaki diawal-awal saya mulai melukis, dimana saya mulai belajar menciptakan karakter-karakter yang saya lukiskan kedalam kanvas.

  
Hidup di dunia Boneka Jim Henson
Tahun 2000, saya berpapasan dengan senior saya Oyasujiwo di koridor kampus ITB, kami berbicara sedikit soal membuat acara anak dan sebagainya, saat itu sempat tercetus oleh saya, ‘ suatu saat saya akan bekerja di Jim Henson’, mungkin saat itu Oyas tertawa, seharusnya saya juga, karena itu hanyalah sepenggalan kata berseloroh yang kosong tanpa arti diawal-awal masa kuliah, dimana saya masih begitu naif terhadap segala kondisi dan kemelut pencarian jati diri. Siapa sangka tahun 2008 hingga 2011 saya bekerja di  Sesame street Indonesia (Jalan Sesama), adalah co-production dari Sesame Workshop yang bermarkas di New York. Co-production berarti kami bekerja dengan boneka (muppet) yang di buat oleh Henson Company, berkomunikasi dengan Sesame Workshop di New York  dan Elmo.
Begitu diterima sebagai art director, saya langsung menghubungi Oyas tentang perkataan saya , dan Oyas juga masih mengingatnya dan mengucapkan selamat, kami tidak pernah menyangka hal yang tidak serius itu menjadi kenyataan dan berubah menjadi sangat serius. Sayapun mulai bekerja dengan boneka (muppet), begitu antusiasnya saya masuk kedalam studio dimana setiap hari dan bertemu dengan boneka-boneka (muppet) dari Henson Company, begitu saya mencintai pekerjaan ini sampai-sampai saya melahap tiga jabatan, art director, film director hingga sebagai studio producer.
Setiap malam disaat semua kru studio sudah pulang , (kebetulan saya memegang semua kunci studio dan saya adalah kepala studio, saya memilki kekuasaan untuk melakukan apapun didalam studio) saya diam-diam akan mengeluarkan semua boneka (muppet) , menyalakan lampu dan meletakkan semua boneka (muppet) di set studio, dimana disana dibangun desa palsu untuk kebutuhan latar disaat syuting, saya akan duduk disana hingga larut malam, membaca script ataupun sekedar berkhayal dan melamun. Inilah pertama kali saya berada didalam dunia khayal yang sebenarnya, dimana semua ada didepan mata, benda-benda mati  (boneka)yang tampak hidup didalam layar kaca semua begitu dekat berada disekitar saya, hanya saya dan mereka (boneka),mungkin terdengar gila, tapi apa boleh buat, kesenangan tersendiri bagi saya.
Sesekali sambil memajang boneka-boneka itu di set studio, saya luangkan waktu untuk membaca siapa itu Jim Henson, kenapa dia melakukan semua ini hingga saya terlibat didalamnya. Selama kurun waktu 3 tahun  tersebut, hal yang saya pelajari adalah bagaimana ‘menghidupkan’ benda mati menjadi begitu berpengaruh terhadap hidup orang lain, merasakan benda mati bisa jadi perantara untuk mengungkapkan sesuatu yang sulit dilakukan oleh manusia, bahkan kita mampu memasukkan sifat-sifat tertentu kedalamnya dan membuat orang lain percaya bahwa mereka ada dan menciptakan sebuah komunikasi.

Saya begitu mencurahkan energi dan segala kemampuan saya disana, kemampuan saya menggambar, merancang, penggunaan warna-warna dari magic mushroom yang selalu saya ingat di kepala saya untuk setiap objek yang digunakan, hingga scene direction-pun saya contoh dari animasi-animasi karya Studio Ghibli. Saya seperti mengumpulkannya menjadi satu disana.
Hal yang lucu adalah, setiap kali saya menyutradarai sebuah episode, instruksi acting saya bicarakan dengan melihat bonekanya, bukan kepada puppeteer yang ada dibawah/dibalik boneka, hebatnya, para pemain boneka merespon kebiasaan saya tersebut dengan sekedar mengangguk, mengatakan ‘oke’ atau berdiskusi, sehingga terlihat saya sedang berbicara dengan boneka (muppet) langsung. Mereka menjadi terlihat begitu hidup dan bernyawa.fantastis!
Sayang sekali hanya berlangsung 3 tahun, saya pikir saya akan bekerja sangat lama di tempat ini, karena ditempat inilah saya merasakan, segala sesuatu yang bersifat khayalan menjadi kenyataan dan saya berada didalamnya, saya benar-benar bisa berkarya dengan apa yang saya punya dengan begitu bebas seperti seorang seniman, seperti  Hayao Miyazaki, seperti Jim Henson dan tentu saja dengan kecintaan saya terhadap pekerjaan ini, saya begitu sedih kehilangan pekerjaan ini karena faktor internal yang begitu rumit dan berbelit, saya memutuskan untuk tidak mau lagi bekerja di produksi film apapun, bekerja di Sesame Street menjadi pekerjaan terakhir  dan puncak karier  saya didunia perfilman. Inilah khayalan yang menjadi nyata didalam hidup saya, dan tidak mungkin terjadi untuk yang kedua kalinya, memang sudah saatnya berhenti karena sudah tidak ada lagi semangat untuk menciptakan hal lain dalam bentuk film setelah melakoninya sejak 2004.Saya sangat kecewa, yang tadinya saya pikir ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan ternyata bukan.Terima kasih untuk  Jim Henson dengan apa yang sudah dia ciptakan dan dia bangun, dimana pengaruhnya begitu besar bagi banyak orang, sebuah kesempatan yang jarang sekali terjadi, Rest In Peace Jim!

Ubud, Bali
November 2011 , setelah berhenti dari Sesame street Indonesia saya memutuskan untuk pindah ke Ubud, Bali. Memutuskan berhenti dari industri video dan film benar-benar membuat saya tidak tahu lagi mau melakukan apa. Melukis adalah satu-satunya hal yang saya ingin lakukan disini tidak ada pikiran lain, hanya melukis. Hal yang sebenarnya sudah rutin lagi saya lakukan sejak 2006 sebagai hobi sampingan, dan efeknya yang begitu menenangkan. Apalagi kalau saya ingat-ingat, ini adalah mimpi saya sejak kecil  dan belum pernah ada keinginan untuk mewujudkannya. Jadi, disinilah saya, Ubud, Bali tempat dimana begitu banyak pelukis tersebar disetiap tempat, mulai dari artshop hingga galeri besar. Benar-benar awal yang gila untuk memulai sebagai full time artist ditempat dimana semua orang banyak yang melukis dan berkesenian. Seorang teman bernama Peter berkebangsaan Belanda mengatakan, ‘menjadi seniman berhasil adalah 1 diantara 1000’.
Awal yang susah, hidup sebagai seniman di ubud dengan uang tabungan yang pas-pasan. Kebiasaan bekerja rutin dalam  industri video dan film yang dapat menghasilkan banyak uang dengan mudah di Jakarta menjadi dilema yang sangat kuat, tetap mau melukis atau kembali ke industri film yang setiap saat ada saja telepon atau  pesan singkat melalui seluler meminta saya bergabung untuk bekerja sama kedalam sebuah tim produksi film.
Suasana Ubud ternyata yang menguatkan, tempatnya begitu tenang membuat saya malas membayangkan untuk datang  ke Jakarta, apa lagi begitu banyak saya bertemu dengan para pendatang dari negara lain yang mengutarakan kedatangan mereka ke Ubud, banyak diantara mereka  yang ingin  menetap hingga puluhan tahun. Mereka begitu yakin dan mampu melepaskan apa yang dulu menjadi milik mereka demi mencari apa yang benar-benar mereka inginkan didalam hati, tidak sekedar materi untuk bertahan hidup. Sebuah kepasrahan tingkat tinggi dan mereka temukan di Ubud.
Sayapun sedikit demi sedikit mulai belajar merelakan, melepaskan dan pasrah. Mulai berusaha mengenali dan memahami hal sederhana yang saya inginkan. Belajar dari melihat orang-orang Bali yang hidupnya 60 persen untuk aspek spiritual dan 40 persen untuk tuntutan duniawi (bekerja). Sebuah kerelaan yang dilakukan turun temurun hingga sekarang, meskipun sebagian dari mereka tidak memahami betul apa yang sedang mereka lakukan dalam aspek spiritualnya.
Waktu berjalan terus saya mulai membiasakan atau memaksakan diri setiap hari melukis, disaat melukis inilah banyak terjadi perenungan didalam diri saya, seperti bicara kepada diri sendiri, mulai muncul pemahaman-pemahaman sederhana yang begitu mudah dipahami mengakibatkan saya ketagihan untuk melukis karena kebutuhan ‘diskusi” terhadap diri sendiri dan mencari tahu tentang banyak hal. Saya mulai melupakan materi, mulai belajar menerima  apa yang ada dan itu sudah sangat cukup bagi saya. Secara materi mulai muncul dengan sendirinya dari lukisan dan saya anggap sebagai ‘bonus’ dari  hasil ‘diskusi’ terhadap diri sendiri meskipun hasilnya tidaklah banyak.
Saya sendiri tidak menyangka hasil yang terlihat secara visual muncul sedemikian rupa, saya mulai melihat kembali keterlibatan magic mushroom dalam warna, tokoh muppet dalam objek lukisan, dan alam fantasi/imajiner karya-karya animasi Hayao Miyazaki. Secara keseluruhan tidak ada lagi rasa takut lukisan terlihat jelek ataupun bagus, sebuah perasaan yang sama disaat saya mulai melukis dengan kuas dan cat sepulang berkunjung dari museum Affandi waktu kecil.
Mulai muncul pertanyaan-pertanyaan di benak saya,
‘Apakah saya mulai melukis dengan kuas dan cat disaat kecil, melukis jelek seperti Affandi  adalah bagian dari apa yang sudah menjadi rencana saat ini?’
‘Apakah efek magic mushroom yang dulu saya rasakan adalah bagian rencana ini?’
‘Apakah kesenangan saya terhadap Hayao miyazaki diarahkan untuk ini?’
‘Apakah tujuan dipertemukan dengan Muppet Jim henson adalah bagian dari rencana ini juga?’
..dan..
‘Inikah sebabnya saya ke Ubud, untuk menemukan dan mengumpulkan plot-plot kejadian yang dulu pernah di terjadi sebelumnya menjadikannya kedalam bentuk lukisan?’

Begitu lama harus menunggu saat ini dan prosesnya begitu panjang, berkelok-kelok tanpa saya sadari sebab dan kegunaannya. Kalo memang seperti itu tujuan dan maksud dibalik semua ini.. maka saya adalah satu diantara seribu.

Proses self Kognitif dan memvisualkannya.
Cerita-cerita saya diatas mebantu saya untuk meciptakan visual dari karya-karya saya dalam pameran ini, mengumpulkan berbagai ingatan,atensi, kesadaran, persepsi, bahasa dan kreativitas yang ada, menjadikannya satu kedalam kanvas ataupun material dan media lain nantinya. Saya akan coba menjelaskan prosesnya.
Berkarya dengan mengingat pengalaman pribadi baik secara implisit (tempat skema kelekatantransference, dan super ego)  ataupun eksplisit (informasi sosial dan identitas, penggambaran otobiografi, aturan sosial, norma, harapan), seolah seperti sebuah introspeksi dan penyadaran terhadap diri sendiri. Proses tradisional dari mengingat yang dilalui dengan pendataan penginderaan, ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang, mengumpulkan berbagai macam puzzle kehidupan, menggambarkan pengalaman masa lalu dan menggunakan hal tersebut sebagai alat untuk memanggil informasi lama mengubahnya menjadi informasi baru membentuk sebuah kognitif, yang mana didalam kognitif rangsang visual memegang peranan penting dalam membentuk persepsi ( rangkaian proses pada saat mengenali, mengatur dan memahami sensasi dari panca indera yang diterima dari rangsang lingkungan). Penggunaan informasi ini, yang dalam kasus saya menjadikannya sebagai objek visual disebut sebagai sebuah proses Kognitif  yaitu pengolahan informasi kerja dan proses fisik dengan anggota tubuh manusia (mata,tangan,jari,kaki,suara) baik aktif maupun pasif (melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya).
Terjadi juga sebuah perubahan dalam penyatuan pengalaman sensori melalui introspeksi diri, menjadikan diri sebagai pembelajaran terhadap psikologi kognitif  yang mempelajari bagaimana kita sebagai manusia dapat menerima, mempersepsi, mepelajari, menalar, mengingat dan berpikir tentang suatu informasi yang kemudian membentuk sebuah kepercayaan/ pengetahuan yang dapat memengaruhi sikap dan pada akhirnya mepengaruhi perilaku dan tindakan terhadap sesuatu.
Berbicara terhadap diri sendiri disaat duduk merenung ataupun berdiam diri, lalu ‘memisahkan diri’ menjadi orang lain yang memilki cara pandang positif dari apa yang saya jadikan pembahasan, menyetujui ide awal tersebut dan memberikan pujian, setelah itu kembali melakukan ‘pemisahan diri’ menjadi orang lain yang mendebat semua ide awal menjadi hal yang sangat negatif dan kritis, menjadi sebuah pelatihan terhadap diri saya setiap hari untuk mengenal siapa saya dan untuk apa saya ada, menambah pengetahuan yang saya tidak ketahui yang diawali dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab sebelumnya,hingga pertanyaan yang tak terjawabpun bisa dipahami dengan adanya andil dari waktu yang menyertainya nanti. Satu sisi memang terlihat seperti orang gila yang berbicara sendiri, namun inilah yang nyaman untuk saya lakukan untuk mengetahui berbagai macam hal.
Selama melakukan latihan diatas, menimbulkan berbagai pengenalan sifat, begitu banyak alternatif karakter yang muncul dan berusaha memahaminya meskipun terkadang terjadi penolakan keberadaannya. Tanpa sengaja, sayapun memvisualkan berbagai sifat dan karakter tersebut, menciptakan berbagai ikon dan simbol visual yang mudah untuk dapat saya ingat dan kenali untuk pemahaman, membentuknya seperti sebuah mnemonik (mengingat dengan bantuan visual ) yang dikembangkan menjadi sebuah cerita fantasy dan dongeng bergambar dan memberikannya judul  ‘Tales of moving Island’, dan petualanganpun dimulai.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar