Sabtu, 04 Desember 2010

HAND in HAND workshop exhibition (tribute to S.Sudjojono), 8 - 15 December 2010


Pameran Hasil Workshop
“ HAND IN HAND ”
: studi sketsa mural sudjojono

oleh
Atti Kusniyati
Dewi Kartika Capri
Dina Pratipto
Djumarningsih
E. Resmiati
Pujaningsih
Sekartunggal
Sri Lassini
Tuti Ardilla
Vike Wiqoyah Satari
Sutji Martiningsih W.
Amira Yasmine Aminanda
Muhammad Iqbal Saefullah
Hajar Hanfa Azzahra Saefullah
Tajaliya Anais Aminanda
Tsalitsa Naswa Raihana Saefullah
PG/TK AL-YAHYA Cigadung


Pembukaan Pameran : Rabu, 8 Desember 2010, pukul 14.00 WIB - selesai



Pameran “ Hand in Hand ” ini merupakan hasil karya workshop dari program publik s.1 4
dalam partisipasinya pada acara tribute to Sudjojono yang diselenggarakan oleh Galeri Canna, Jakarta dan Sudjojono Center bekerjasama dengan Galeri Soemardja, FSRD ITB. Diawali dengan pameran “ Sang Ahli Gambar dan Kawan-kawan ” yang mengundang partisipasi setiap seniman dan serentak diadakan dalam ruang-ruang seni di Bandung untuk mengenang S.Sudjojono (Pak Djon) sebagai bapak seni lukis modern Indonesia.

Sejak 20-31 Oktober 2010, program publik s.14 yang diawali oleh kunjungan publik umum (anak-anak, remaja dan orang tua) ke galeri dan ruang seni di Bandung; Galeri Soemardja, Selasar Sunaryo Art Space, Lawangwangi Art & Science Estate, Platform3, dan Studio Rosid untuk melihat karya sketsa pak Djon sekaligus pemahamannya akan istilah pameran seni, galeri seni, sketsa/drawing, lukisan, patung, instalasi dan lainnya. Program publik ini diakhiri dengan workshop ‘drawing and stitching’ dimana anak-anak, remaja dan orang tua diundang untuk meniru sketsa mural selamat datang yang dibuat oleh S.Sudjojono dengan medium yang
berbeda-beda ; pensil di atas kertas, charcoal di atas kanvas, dan benang di atas kain. Lalu s.14 berpikir akan hasil akhir dari workshop ini tidak berhenti pada tahap pengenalan media baru saja, tetapi ingin mengajak partisipan workshop untuk terlibat langsung dalam simulasi persiapan pameran seni. Selain itu karya mereka dapat diapresiasi oleh publik yang lebih luas.

Judul pameran ‘ Hand in Hand’ merepresentasikan semua simulasi program publik ini ketika bersama-sama mengapresiasi, memahami, berkarya dan mempersiapkan pameran untuk apresiasi yang lebih luas dari hasil kreativitas bersama. Hal ini juga tercermin pada acara Tribute to Sudjojono yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dan tim persiapannya, seniman dan ruang-ruang seni di Bandung. Kebersamaan ini tervisualisasikan juga dalam sketsa mural selamat datang yang dibuat oleh pak Djon yang menggambarkan keragaman suku atau ras
bangsa. Semoga semua pihak yang terlibat dalam acara ini tidak lupa akan hal tersebut, makna dibalik perbedaan dalam kebersamaan.


Selamat berapresiasi,
s.14



Program Perpustakaan s.14

6 to 5 : “ Pegangan Tangan ”, a drawing by Rabianna Laykanissa Siregar

7 “ : "Tribute to Sudjojono", a video documentation by Intermedia Studio FSRD ITB


Program Pameran ini didukung oleh

Galeri Canna, Sudjojono Center Galeri Soemardja, dan Videolab.

Jumat, 27 Agustus 2010

WORKSHOP and ART PRESENTATION, 29 - 30 August 2010

A workshop and art presentation by Indrani Ashe & Arum S. Prameshwari;

TIE DYE WORKSHOP
Sunday, 29 August 2010 at 10 am - 3 pm
will be 2 session;
10 am - 12 pm session 1 with Ibu-ibu PKK RW 07 komp. perum UNPAD Cigadung
1 pm - 3 pm session 2 with public, open for everyone

workshop fee : Rp. 25.000,- (including material)
contact : Herra (0815 7373 7138)


ART PRESENTATION
Monday, 30 August 2010 at 4 pm - done
"Ngabuburit puasa sampai buka dan Tajil Bersama"

video

Rabu, 18 Agustus 2010

INNER SPACE, 23 August - 23 September 2010











" INNER SPACE "
a collaboration work by
Arum S. Prameshwari & Indrani Ashe


s.14 found Indrani Ashe artwork is similar to Arum Sekar Prameshwari, therefore we met them together and let them to collaborate by themselves. Both of their work is more like abstract work but in three dimensional object, moreover it was an abstract installation. Indrani focus on an organic aesthetic through her local found object where Arum is more experiment in fabric media especially in tole. In this collaboration work, Indrani and Arum mixed together what they
interested in. Both on material aspect and the concept of a human body.

Indrani Ashe is mixed American Indian who live in Bandung since past 2 years ago to have a research on local material culture and work as a teacher in one of International private primary school in Bandung where Arum Sekar Prameshwari is from Jakarta, Indonesia who live and work in Bandung, she is one of bachelor art graduated from Fine Art Department in ITB who is now working as a program manager in one of private gallery in Bandung.

They name their collaboration work into " Inner Space " , kind of site-spesific work where they install their work in s.14 into a labyrinth in a small space. this exhibition will followed by a small exhibition in s.14 library; in 6 to 5 program there will be a drawing by Arum Sekar Prameshwari on her previous work and in 7" program there will be a video documentation of Indrani's previous work.

Arum and Indrani will do two session of TIE DYE workshop, one workshop is dedicated to Ibu-Ibu PKK in RW.07 Komp. Perum UNPAD Cigadung, Bandung. Another workshop is open to public, especially teenagers who interested in making their own T-Shirt by tie dye colour experiment.

We will welcoming all of you to apreciate their work, please come and join the workshop for more deep apreciation of the work, enjoy everyone!

warm regards,


s.14


>Opening Exhibition : Monday, 23 August 2010 at 4pm - 7 pm
will be officiated by Dr. Kahfiati Kahdar, MA.
Artist Talk, 4 pm - 6pm.

>TIE DYE Workshop : Sunday, 22 August 2010
special session with Ibu-ibu PKK RW.07 Komp. Perum UNPAD Cigadung
Sunday, 29 August 2010
Open for public, workshop fee Rp. 25.000 (including material & T-shirt)
contact : Herra, 0815 7373 7138

> Art Presentation : " Bedah Karya & Kopi Sore" by Arum S. Prameshwari & Indrani Ashe
a presentation of creative process of their work from previous times.

> s.14 library :
7" program : " embryo garden ", a video documentation by Indrani Ashe
6 to 5 program : "liquified #1", a drawing by Arum Sekar Prameshwari




I.

Kolaborasi kami bermula karena ada kesamaan kecenderungan dalam mengolah bentuk organik pada karya kami masing-masing. Proses kolaborasi kami mulai dengan menyelami/mendalami “isi” pikiran kami masing-masing dengan bertukar cerita tentang kecenderungan ide-ide pada karya kami yang sebelumnya sampai kami menemukan satu titik kami dapat merasa nyaman dalam berkolaborasi. Dimulai dari kecenderungan mengolah bentuk-bentuk organik kami berusaha mengali kembali bentuk-bentuk lain dari rasa nyaman yang ingin kami gambarkan.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk membuat diri mereka nyaman, ada yang merasa nyaman saat berada dalam keramaian atau sebaliknya, atau merasa nyaman saat mendengarkan suara-suara tertentu atau sebaliknya, merasa nyaman saat berada didalam dan terselubung oleh sesuatu atau merasa nyaman saat berada di luar tanpa terhalang oleh sesuatu dan lain sebagainya.

Karya kami mencoba menerjemahkan apa yang ada didalam (organ) tubuh manusia, menggambarkan bagaimana rasanya berada didalam tubuh sendiri dan menciptakan sendiri ruang-ruang imajinasi melalui bentuk-bentuk yang kami olah. Dalam karya kolaborasi ini pula kami bertukar “informasi” teknik yang pernah kami pahami. Kami menggunakan teknik celup ikat yang dikuasai oleh Indrani dan menggunakan material tile yang pernah digunakan oleh saya. Dalam proses berkarya kami berusaha memadukan kedua aspek ini untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan bentuk baru yang sebelumnya tidak terolah oleh kami. sehingga pada akhirnya selain kami dapat mengenal lebih jauh karakteristik material-material yang selama ini kami gunakan kami juga semakin mengenali diri kami satu sama lain juga diri kami masing-masing.

Proses ini dapat diartikan sebagai saat-saat dimana manusia melihat kembali ke dalam dirinya dan diterjemahkan dengan penggambaran saat berada dalam tubuh (organ dalam) manusia. Proses melihat kembali kedalam dapat diartikan juga sebagai proses perenungan, dengan tujuan akhirnya mendapatkan suatu jawaban atau pencerahan.

Pada akhirnya secara pribadi proses berkarya ini saya jadikan sebagai kesempatan untuk merefleksikan diri, berusaha menemukan kembali .

Arum Prameshwari

Arum was born in Jakarta on September 26, 1983. She graduated from sculpture studio for her Bachelor Degree in Fine Art Department, Faculty of Art and Design, Bandung Institute of Technology on 2008. She joined Buton Kultur, a group of artists that initiated a space for community event in Bandung. Now, she is working as a program manager in Selasar Sunaryo Art Space since 2008. She start to exhibit her artwork on 2004, where she joined a workshop by Tosihiro Kuno in Soemardja Gallery. She is passive in exhibiting her artworks. The last exhibition she joined was Deer Andry, a tribute exhibition from a group of artists in Bandung, Jakarta and Yogyakarta on 2008 – 2009.



II.

The collaboration began with the exchange of two perspectives: fabric as a sculptural metaphor for skin or bodies, and toile as a metaphor for comfort. The fusion of these perspectives offered the imagination of a new space, a space depicting the comfort and sanctuary within the embrace of or inside of a body. This is a concept that is continually expressed in each phase of human life, physically and metaphorically.

We begin consciousness within the womb, comfortably floating in a warm red haze. Voices, predominantly our mother’s, are softened by the flesh that cradles us. As infants and children we cannot develop without being cradled, held, and hugged. We run inside of arms and between breasts for security, reveling in physical contact. When afraid or in play we might imitate the closeness and sanctuary of the womb by hiding under the blanket. In adolescence we begin the search for sanctuary inside of a lover’s arms, again finding peace and pleasure within the embrace. We long to be inside someone’s heart or in some one’s thoughts as much as we hold people within our heart or thoughts. In times of stress we may close our eyes, trying to generate peace within our own mental space, separated from the outside world.

In the realization of this imaginary space we experimented with a large variety of textures and tones. We used a dip dye technique on the fabric to create organic variation in color that had a stronger correlation to internal organs than the uniformity of factory produced hues. Layers of toile create an interplay of color and form that at once symbolize membranes and inner working of the body as well as the complexities of the heart and mind which make each individual unique.

Indrani Ashe

Indrani Ashe was born in Winston Salem, North Carolina in 1984. She studied sculpture at Wake Forest University in Winston Salem, producing several public art works and exhibitions during her time there. After graduating in 2006, she went to Indonesia to produce artwork based on an investigation of Indonesian visual culture. Indrani researched traditional markets in Surabaya for a year and then moved Bandung to produce art work. Her solo exhibition “Plastik Organik” took place at Common Room in June 2008. During 2009 she researched and developed the concept of ‘Rahasia Jalan Tikus’, creating art work based on the material culture of community interaction in Sekeloa, Bandung. She has plans to further develop this concept at a residency at Kersan Gallery in Yogyakarta. So far this year she has been practicing her expertise in textiles through collaborative works at Jatiwangi Art Festival and with Bandung artist Arum Prameshwari.




Jumat, 23 Juli 2010

BEDAH KARYA dan KOPI SORE, 25 Juli 2010
























Presentasi Karya
dari Muhammad Akbar dan Mufti Amenk Priyanka
Minggu, 25 Juli 2010 @ s.14, pukul 15.00 WIB
Jl. Sosiologi no. 14, Komp. Perum UNPAD Cigadung Bandung


" mengobrol santai sambil menikmati sore hari dengan kopi, teh dan snack kecil di rumah.."

Senin, 05 Juli 2010

" AFTER IMAGE ", 11 July - 8 August 2010







AFTER IMAGE

Personal (Family) Memorabilia 2000-2010
a solo exhibition by Henrycus Napit Sunargo
11 July - 8 August 2010 @ s.14
Jl. Sosiologi no. 14, Komp. Perum UNPAD Cigadung Bandung

Umumnya , sekumpulan foto yang dibuat dalam sebuah kurun waktu tertentu akan tersusun menjadi sebuah dokumentasi historik yang terdiri dari gambaran2 yang saling terkait satu sama lain; sebuah rentetan peristiwa menjadi cerita lazimnya sebuah album atau jurnal visual. Susunannya sendiri bergantung pada pendekatan masing2 individu atau kelompok. Masing2 orang atau komunitas kecil seperti sebuah keluarga akan mempunyai kesenangan, selera atau kecenderungan untuk menyusun sebuah buku foto yang berisi foto2 kenangan ataupun memorabilia seseorang ataupun komunitas kecil tersebut. Tentunya sekumpulan foto dalam buku atau lebih dikenal sebagai album foto ini sebisa mungkin memuat semua kenangan terhadap tempat atau kejadian yang dianggap penting oleh pihak2 yang terhubung langsung pada album foto tersebut.

Adapun foto serial yang saya susun ini mencoba mengadaptasi sebuah pendekatan fotografi yang sangat umum, yaitu kumpulan foto2 yang menjadi memorabilia sebuah keluarga yaitu keluarga dan lingkungan rumah saya sendiri . Tapi disini saya justru mengesampingkan atau bahkan mencoba mengeliminasi penanda waktu yang spesifik dan citra foto yang “langsung menerangkan” atau sekedar dokumentatif yang lazimnya menjadi prioritas utama sebuah “album keluarga”. Disini saya lebih mengedepankan citra yang terkadang abstrak, ambigu, terkesan mentah, keseharian,snaps dan “tak tersusun” berdasar waktu. Kumpulan foto2 disini lebih seperti dokumenter dengan perspektif personal dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Bisa disebut kalau kumpulan foto ini lebih berupa sekumpulan representasi fragmen2 yang memicu sebuah ingatan atau mood yang kadang tidak ada hubungannya sama sekali dengan foto itu secara langsung. Seperti hal nya apabila kita mendengarkan sebuah lagu, terkadang yang terlintas di pikiran kita bukan hal2 yang berhubungan langsung dengan lirik lagu tersebut, namun malah memicu ingatan kita akan sebuah kejadian atau perasaan tertentu yang mungkin malah bertentangan dengan isi lagu itu sendiri.

Dalam kurun waktu 10 tahun ini tentunya banyak sekali kejadian dan peristiwa apabila dirunut satu persatu. Karya fotografi saya anggap medium yang paling efisien untuk menyusun sebuah memorabilia personal yang bisa mewakili berbagai kondisi dan mood. Dengan media fotografi sebagai medium yang saya tekuni, saya merekam gambaran2 foto yang menandai rasa ; ingin mengkomposisi- dekomposisi, jenuh, spontan, dangkal, depresi, eksperimen, atau satir sekalipun dalam kurun waktu 10 tahun ini.

Inti dari foto seri ini adalah memerdekakan semua persepsi yang dibentuk dari fragmen2 yang direpresentasikan dalam karya fotografi yang bersifat ritmik-non historik. Karya fotografi ini bukanlah sebuah konklusi dari sebuah perjalanan linear sebuah kehidupan, namun hanyalah sekumpulan sketsa acak yang dipungut dari sekian banyak fragmen yang diikat dalam sebuah tema.


Opening Exhibition : Sunday, 11 July 2010 at 4 pm

Will be officiated by Mr. Irfan Ahadi Tachrir

Guitar Acoustic by Aminudin TH Siregar

Artist Talk, 5 - 6 pm.


Photography Workshop : " B/W Processing & Dark Room Technique "

7 Days Workshop by Henrycus Napit Sunargo

limited to 10 people/session

Rp. 100.000,- (including material)

contact : Herra ( 0815 7373 7138 )


There are two other programmes in s.14 library ; 7" is a video screening programme by VIDEOLAB (http://videolab.blogdrive.com) in 7 inch LCD player and 6 to 5 is a drawing exhibition in 60 cm x 50 cm space available. This July 2010, we proudly present :






7 " : " ZIZI ", 2 min 59 sec., dvd loop, 2010

a video screening by Muhammad Akbar







6 to 5 : " PATHETIC WALL" , china ink on paper, 21 x 29.1 cm, 2010

a drawing by Mufti Amenk Priyanka



Akbar and Amenk will share about their concept about their works on Sunday, 25 July 2010 @ 2 pm.



artists short profile :























Jumat, 14 Mei 2010

Pameran Trivistha, 23 Mei - 20 Juni 2010



















Jadwal Kegiatan || Bon Apetit | Sabtu, 22 Mei 2010, 12.00 WIB - selesa i (undangan khusus) || Pembukaan Pameran | Minggu, 23 Mei 2010, 16.00 WIB, Opening Act oleh A r t n o n i m o u s (www.myspace.com/artnonimous, youtube.com/artnonimous) || Workshop Anak | Minggu, 6 Juni 2010, 14.00 - 16.00 WIB, SOFT TOY oleh Pritha Fitria Natasha Bekti, pendaftaran Rp. 20.000,- (kontak Herra 0815 7373 7138) || Panggung Cerita | Minggu, 13 Juni 2010, 14.00 WIB - selesai, story telling oleh Trivistha dan hasil workshop Soft Toy 6/6/2010 || perpustakaan s.14 | 7": kompilasi animasi oleh Febrianto Pudi Utama | 6 to 5 : aksara jawa oleh Febrianto Pudi Utama




TRIVISTHA

: Siklus Kehidupan


"Rasa murni mengalir berupa niat yang terproyeksikan dalam akal dan pengetahuan, tersampul dalam laku keseharian, merupakan hasil dari sekian banyak proses sublim namun seringkali tak tertangkap oleh indera. Dengan begitu dalam setiap individu tersirat suatu keunikan, tanpa bisa dihindari, sudut pandang dan irama tubuh pun terpengaruh dalam menerjemahkan rasa murni tersebut. Eksistensi individu melebur berinteraksi satu sama lain, suatu siklus, yang ditiupkan dalam tiga kutub. Trivistha merupakan gabungan tiga nama kami, yang tetap akan berdiri masing-masing dengan karya masing-masing, meskipun tema yang kami bahas sama: Siklus Kehidupan. Sedangkan sifat saling mengganggu dalam karya kami terproyeksikan dengan saling merespon "form". Hal tersebut mengingatkan kami bahwa dalam belantara manusia ini selalu ada hal-hal yang bersinggungan, yang bisa menjadi modal siklus pembelajaran manusia."

Pernyataan kekaryaan diatas adalah hasil pemikiran kolaborasi antara Febrianto Pudi Utama atau yang biasa disapa Viba, seorang desainer komunikasi visual dengan Prisanti Myristica yang biasa dipanggil Isti, lulusan dari kriya tekstil dan Pritha Fitria Natasha Bekti atau Pritha yang merupakan seniman patung ketika merespon tema kekaryaan yang ditawarkan oleh s.14 pada tahun 2010 untuk lebih mementingkan sebuah kekaryaan yang memiliki social value. Kekaryaan yang mempunyai nilai sosial ini diharapkan melibatkan masyarakat untuk mengapresiasi secara langsung atau tidak langsung dalam medium atau gagasan kekaryaan akan sebuah pengalaman personal maupun bersama akan sebuah kehidupan melalui program pameran seni visual atau bentuk pelatihan kreativitas sebagai bentuk dedikasi seniman terhadap masyarakat luas.

Secara tersirat, gagasan kekaryaan mereka berangkat dari sebuah interaksi antara mereka, tiga individu yang mempunyai ketertarikan yang berbeda satu sama lainnya. Seperti halnya setiap individu manusia tidak ada yang sama. Dengan kekaryaannya yang terkesan mempunyai ruangnya masing-masing tetapi bersatu dalam satu ruangan dan saling bersinggungan. Sebuah ruang universal yang menurut Viba adalah representasi dari simbol triquetra, simbol religius atas kehidupan : kekuatan, kejujuran dan keagungan. Selain itu juga dapat merepresentasikan mengenai kelahiran, kematian dan kelahiran kembali, atau alam yang terbagi menjadi tiga : tanah, udara dan air. Hal ini sudah menjadi kepercayaan bagi banyak kebudayaan dan kepercayaan masyarakat akan angka tiga yang mempunyai makna religius dan abadi.

Tiga pernyataan berikut adalah pernyataan akan proses kreatif yang dilakukan untuk kekaryaan Trivistha ;

"Berusaha untuk memahami segala sarana yang saya miliki dan sepenuhnya sadar atas apa yang ada dalam diri. Walaupun pembentukan seseorang sangat terkait dengan apa yang ada di sekitarnya, saya mencoba untuk memfokuskan karya hanya kepada pengalaman pribadi, yaitu berbagai elemen luar yang telah tersaring melalui aktivitas yang didasarkan oleh kepribadian itu sendiri. Apa-apa yang sudah pernah dialami saya kaji dan putarbalikkan guna memperoleh sebaik-baiknya makna suatu kejadian, dengan alasan supaya tidak menjamah apa yang bukan hak saya, serta menghindari memberi suatu pandangan yang bukan pada tempatnya. Saya cenderung berkarya dengan medium yang memiliki karakter spontan seperti cat air, marker dan ballpoint, serta senantiasa mencoba untuk meminimalisir penghapusan suatu goresan, karena saya anggap mereka itu adalah wujud dari keputusan, keadaan fisik dan mental kita pada kurun waktu saat kita melakukan aksi tersebut, seberapa pendek/kecilnya satuan itu. "(Febrianto Pudi Utama)

"Dalam siklus kehidupan bagi saya yang paling penting adalah proses pembelajaran seseorang. Saya menyadari bahwa betapa manusia sangat terikat dengan sesuatu yang bernama 'waktu' dan 'ruang' dimana dalam kepercayaan yang saya miliki hal tersebut tidak dimiliki oleh kekuatan transenden. Manusia yang serba terbentur hal yang berbatasan dengan kemampuannya tersebut pada akhirnya akan menyadari potensi diri untuk mencapai pemahaman tentang hidup dan tujuannya. Mengenal diri adalah hal yang penting, Untuk memilih cara yang tepat untuk belajar, dan menggapai satu tujuan pulang : 'Sang Maha Esa'." (Prisanti Myristica)

"Dalam berkarya, saya selalu bermain di wilayah persepsi manusia terhadap material/ objek. Di sini saya menggunakan material bulu sintetik dengan mengalihkan persepsi sebagai material yang biasa digunakan sebagai fashion atau produk lain yang semula menandai kelembutan menjadi sesuatu sesuatu yang akan dianggap menggangu persepsi tersebut." (Pritha Fitria Natasha Bekti)

Dalam proses kreatif ketiga seniman diatas, Viba terlihat memaknai setiap proses kekaryaannya sebagai representatif atas kehidupannya. Sedangkan Isti memaknai dirinya dalam ruang dan waktu yang terbatas, di kala Pritha lebih bermain-main dengan persepsi orang mengenai hal-hal di luar dirinya.

Social Value yang dihadirkan oleh Trivistha sepertinya mempunyai sebuah pesan personal yang mungkin tidak dapat dimengerti langsung oleh publik umum, oleh karenanya. Pritha, salah satu seniman Trivistha, mencoba membuka pelatihan untuk anak dengan bermain-main dengan medium yang ia bawa pada kekaryaannya. Diakhiri dengan panggung cerita bagi anak, yang merupakan salah satu program untuk menyampaikan pesan atau makna di balik kekaryaan seniman yang berpameran di ruang s.14 kepada masyarakat umum, khususnya anak-anak melalui story telling.

Selain pameran diatas, publik umum juga dapat mengapresiasi beberapa karya pada ruang perpustakaan s.14 dimana terdapat dua (2) program yang mengiringi pameran Trivistha ini; "6 to 5" adalah pameran drawing pada dinding ukuran 60cm x 50cm pada salah satu sudut perpustakaan, kemudian " 7" " adalah pemutaran karya video pada layar lcd 7 inch bekerjasama dengan VIDEOLAB (http://videolab.blogdrive.com).


Selamat Berapresiasi!

Herra Pahlasari



Profil Seniman | Artist Profile :


Febrianto Pudi Utama, lahir di Denpasar pada 3 Februari 1985. Lulus dari Istituto Statale D’Arte Monza, Italia pada tahun 2005 dengan mengambil keahlian Desain Komunikasi Visual. Sejak tahun 2006 sampai 2009 mengikuti beberapa kursus keahlian seperti ABC in Dynamic Flash (single award) di Chelsea College of Art and Design, ABC in Animation Skills (double award) dan FdA in Animation di London College of Communication. Studi dan keahlian yang dimiliki viba meliputi bidang animasi, manipulasi foto, instalasi. Berpengalaman mengikuti beberapa pameran dan proyek seni bersama kelompok illustrator dan seniman grafitti.




Prisanti Myristica, lahir di Bandung pada 18 November 1984. Isti, panggilan akrabnya, merupakan alumni Kriya Tekstil FSRD ITB 2003. Mulai aktif berpameran sejak tahun 2004 sampai 2008; Modest Code di Bali, Perupa perempuan se-Indonesia di Gedung Arsip Nasional, Lobobit toys with exploration of classic batik pattern di Student Centre ITB. Pada tahun 2007, ia berhasil masuk dalam 5 terbaik lukisan pada Kompetisi Seni Lukis Jawa Barat yang diadakan di Galeri Kita Bandung. Selain seni rupa dan kriya, Isti pun mempunyai hobi dalam bermusik.




Pritha Fitria Natasha Bekti, lahir di Jakarta pada 11 Agustus 1979. Pritha, panggilan akrabnya, merupakan alumni Seni Patung FSRD ITB 2001. Mulai aktif berpameran sejak tahun 2005; My Bloody Valentine di BTW Space, Bandung (2005), Metaphoria di Galeri Soemardja, Bandung (2008), Contemporary Archeology di SIGI arts, Jakarta (2009). Selain berkarya, aktif dalam berbagai kegiatan seni rupa seperti workshop, proyek seni, dan sempat mengelola AMIS, manajemen seni pada tahun 2006. Pada tahun 2007 mendapatkan hibah magang nusantara Kelola di Yayasan Kebudayaan Perancis (CCF), Jakarta.